home masjid

Kufur yang Tak Selalu Kafir: Mengurai Makna dan Kebijaksanaan Islam dalam Perbedaan

Jum'at, 27 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dalam perang Jamal, Ali bin Abi Thalib tidak mengafirkan lawan-lawannya. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Dalam sejarah Islam, Perang Shiffin dan Perang Al-Jamal menjadi dua catatan paling getir tentang konflik internal di antara kaum Muslimin generasi awal. Namun di balik dentuman pedang dan panasnya pertikaian, terdapat sikap menyejukkan dari seorang tokoh kunci: Ali bin Abi Thalib.

Kendatimemimpin pasukan yang berhadapan langsung dengan sahabat-sahabat besar seperti Aisyah, Thalhah, dan Zubair, Ali tidak menjatuhkan vonis kafir kepada lawannya. Ia menyebut mereka sebagai bughah,pembangkang, bukan murtad.

Sikap Ali ini menorehkan garis batas yang tegas sekaligus lentur dalam memahami siapa yang benar-benar keluar dari Islam. Ali, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, memilih untuk mengedepankan prinsip ukhuwah dan kehati-hatian dalam menyikapi perbedaan. Musuh politik bukanlah musuh akidah. Inilah pelajaran penting yang terlupakan dalam kegaduhan wacana keagamaan kontemporer.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam karya pentingnya Fatawa Mu’ashirahmenegaskan bahwa istilah kufur dalam hadis atau sunnah tidak selalu bermakna keluar dari Islam. Dalam banyak konteks, kata itu bisa berarti ingkar nikmat, tidak bersyukur, bahkan sebatas pengingkaran etika atau adab spiritual.

Baca juga: Orang-Orang Kafir setelah Mati Akan Disiksa 99 Ular, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali

Antara Makna Literal dan Hukum

Contoh-contoh hadis yang dikutip Qardhawi memperlihatkan kelenturan makna kata “kufur.” Nabi bersabda: “Barangsiapa melakukan sumpah selain kepada Allah, maka ia kafir atau musyrik.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya