home masjid

Asyura di Negeri Syiah: Duka yang Dirawat, Luka yang Dirayakan

Ahad, 29 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dan begitulah, Asyura selalu kembali. Menyapu jalan-jalan dengan warna hitam dan denting rantai. Tehran Times
LANGIT7.ID-Setiap 10 Muharram, umat Syiah di berbagai belahan dunia turun ke jalan. Mengenang wafatnya Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW, mereka menangis, memukul dada, bahkan mencambuk diri. Tradisi ini menyimpan lebih dari sekadar ratapan: ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Pakaian serba hitam membanjiri jalanan. Genderang duka ditabuh bertalu-talu, mengiringi arak-arakan unta berhiaskan kain berwarna-warni. Di tengah hiruk pikuk kota Teheran, suara ratapan menggema bersahut-sahutan. Ribuan orang—lelaki dan perempuan—berdiri berdempetan, memukul dada mereka dengan irama yang nyaris serempak. Beberapa di antaranya menitikkan air mata. Ada pula yang mencambuk punggungnya dengan rantai besi. Hari itu, 10 Muharram. Hari Asyura. Hari duka umat Syiah.

Di Iran, Irak, Pakistan, dan negara-negara dengan populasi Syiah signifikan, Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah. Ia adalah luka kolektif yang terus dihidupkan, diperingati dengan penuh gairah dan kesakitan.

Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, tewas dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 M, kepalanya dipenggal, tubuhnya tercabik. Peristiwa itu tak hanya ditangisi, tapi diwariskan sebagai bentuk perlawanan terhadap tirani.

Baca juga: Doa Asyura: Mengurai Harap di Tanggal 10 Muharram

Duka yang Disimbolkan

Di berbagai kota besar seperti Karbala, Teheran, Qom, Kabul hingga Lahore, warga turun ke jalan. Mereka mengenakan pakaian hitam sebagai lambang berkabung. Ritual berkisar dari tangisan hingga teatrikal: dada-dada dipukul, punggung dicambuk rantai, sesekali diiringi nyanyian pelayat. “Ini bukan sekadar kesedihan,” kata seorang ulama di Najaf, Irak, “Ini penegasan bahwa kebenaran pernah dibunuh, tapi semangatnya tak pernah padam.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya