Asyura di Persimpangan Keyakinan: Antara Fakta, Legenda, dan Tafsir Emosional
Miftah yusufpati
Senin, 30 Juni 2025 - 05:45 WIB
Asyura adalah ruang spiritual yang luas. Ilustrasi: Tehran Times
LANGIT7-ID-Di kalender Islam, 10 Muharam — hari Asyura — selalu menempati ruang istimewa. Bukan hanya karena nilai spiritualnya, tetapi karena hari itu telah menjadi kanvas luas yang memuat banyak cerita: dari yang diwarnai air mata, dibalut mitos, hingga yang dipertanyakan keabsahannya. Seperti sebuah palimpsest, Asyura ditulisi ulang oleh zaman dan keyakinan.
Ada yangmeyakini bahwa pada hari Asyura, Nabi Adam diciptakan, Nabi Ibrahim dilahirkan, tobatnya diterima, bahkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada tanggal itu. Bahkan, berkembang keyakinan bahwa siapa yang mandi besar atau memakai celak mata di hari Asyura takkan sakit sepanjang tahun. Bagi sebagian umat, ini bukan sekadar cerita; ini menjadi laku keagamaan yang dijalani dengan keyakinan penuh.
Namun bagi Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, M.Ag, semua itu perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih jernih. Dalam karyanya "Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan", ia menyebutkan bahwa tak satu pun dari klaim tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. “Hadis-hadis seperti ‘siapa yang memberikan kelonggaran pada hari Asyura’ atau ‘siapa yang mandi maka tidak sakit sepanjang tahun’, semuanya tidak memiliki sanad yang shahih,” ujarnya.
Baca juga: Nabi Yunus di Perut Ikan, Duka yang Diselamatkan pada Asyura
Pertanyaan dasarnya sederhana: mengapa hari Asyura dipenuhi banyak legenda?
Sebagian jawabannya terletak pada kebutuhan manusia untuk mengisi ruang spiritual dengan simbol dan ritual. Di tengah minimnya akses terhadap teks primer keagamaan, budaya lisan dan tradisi masyarakat mengambil alih. Maka, hari Asyura bukan hanya diperingati sebagai momentum puasa sunnah—yang justru ditegaskan oleh Rasulullah SAW—tetapi dibumbui oleh praktik-praktik yang tak pernah diajarkan oleh para imam mazhab.
Kaum Nashibah—yang dalam sejarah dikenal membenci Sayyidina Husain RA—bahkan menciptakan narasi tandingan, bahwa hari Asyura adalah hari kegembiraan, disarankan untuk memakai celak, memperluas belanja keluarga, dan membuat makanan spesial. Sebuah ironi yang mengaburkan makna sejarah dan memperlebar jarak dengan tragedi Karbala.
Ada yangmeyakini bahwa pada hari Asyura, Nabi Adam diciptakan, Nabi Ibrahim dilahirkan, tobatnya diterima, bahkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada tanggal itu. Bahkan, berkembang keyakinan bahwa siapa yang mandi besar atau memakai celak mata di hari Asyura takkan sakit sepanjang tahun. Bagi sebagian umat, ini bukan sekadar cerita; ini menjadi laku keagamaan yang dijalani dengan keyakinan penuh.
Namun bagi Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, M.Ag, semua itu perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih jernih. Dalam karyanya "Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan", ia menyebutkan bahwa tak satu pun dari klaim tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. “Hadis-hadis seperti ‘siapa yang memberikan kelonggaran pada hari Asyura’ atau ‘siapa yang mandi maka tidak sakit sepanjang tahun’, semuanya tidak memiliki sanad yang shahih,” ujarnya.
Baca juga: Nabi Yunus di Perut Ikan, Duka yang Diselamatkan pada Asyura
Pertanyaan dasarnya sederhana: mengapa hari Asyura dipenuhi banyak legenda?
Sebagian jawabannya terletak pada kebutuhan manusia untuk mengisi ruang spiritual dengan simbol dan ritual. Di tengah minimnya akses terhadap teks primer keagamaan, budaya lisan dan tradisi masyarakat mengambil alih. Maka, hari Asyura bukan hanya diperingati sebagai momentum puasa sunnah—yang justru ditegaskan oleh Rasulullah SAW—tetapi dibumbui oleh praktik-praktik yang tak pernah diajarkan oleh para imam mazhab.
Kaum Nashibah—yang dalam sejarah dikenal membenci Sayyidina Husain RA—bahkan menciptakan narasi tandingan, bahwa hari Asyura adalah hari kegembiraan, disarankan untuk memakai celak, memperluas belanja keluarga, dan membuat makanan spesial. Sebuah ironi yang mengaburkan makna sejarah dan memperlebar jarak dengan tragedi Karbala.