Hunafa: Para Pencari Tuhan di Tengah Berhala Arab Jahiliyah
Miftah yusufpati
Selasa, 15 Juli 2025 - 05:45 WIB
Para hunafa dikenal sebagai pembaca dan pemikir di tengah masyarakat yang sebagian besar buta huruf. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk pikuk penyembahan berhala di Makkah, sebagian kecil orang Arab memilih jalan sunyi: meninggalkan kaumnya, mencari kebenaran, dan menyembah Tuhan yang Esa, meski mereka juga menolak menjadi Yahudi atau Nasrani.
Pada masa pra-Islam, di antara para pemuja Hubal dan penari di sekeliling berhala, ada segelintir orang Arab yang justru mempraktikkan ibadah-ibadah yang kelak menjadi bagian dari ajaran Islam.
Mereka berkhitan, bersedekah, mandi junub setelah bersanggama, menjauhi bangkai dan darah, bahkan menjalankan puasa dan menjamu fakir miskin di bulan Ramadan. Anehnya, mereka menolak bergabung dengan agama Yahudi maupun Nasrani yang sudah lebih dulu menyebar di tanah Arab.
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam menyebut gerakan kecil ini dengan istilah hanifiyyah. Penganutnya disebut hanif (jamak: hunafa), yaitu orang yang keluar dari agama kaumnya dan meninggalkan peribadatan mereka. Dalam bahasa Arab Selatan, hanif berarti keluar atau berbelok dari keyakinan kaumnya, sementara dalam bahasa Aram, kata ini justru bermakna munafik atau kafir.
Orang Quraisy sendiri, menurut Abdul Aziz, pernah menyebut Nabi Muhammad dan para pengikutnya sebagai al-shabi, yang artinya orang-orang yang ingkar. Namun dalam pandangan Islam, para hunafa justru dianggap mulia: mereka mengingkari berhala, menolak akhlak buruk masyarakat, dan menganut agama Ibrahim, sang bapak monoteisme.
Baca juga: Turunnya Al Qur’an Jadi Transformasi dari Jahiliyah ke Masyarakat Modern
Para hunafa datang dari berbagai kabilah dan tidak memiliki organisasi yang rapi. Abdul Aziz menyebut mereka sebagai kelompok orang yang menyerukan perbaikan, mengajak kembali kepada penyembahan Tuhan yang Esa, menolak mabuk-mabukan, berjudi, dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Sebagian mereka cenderung kepada ajaran Nasrani, tetapi tidak memeluknya sepenuhnya.
Pada masa pra-Islam, di antara para pemuja Hubal dan penari di sekeliling berhala, ada segelintir orang Arab yang justru mempraktikkan ibadah-ibadah yang kelak menjadi bagian dari ajaran Islam.
Mereka berkhitan, bersedekah, mandi junub setelah bersanggama, menjauhi bangkai dan darah, bahkan menjalankan puasa dan menjamu fakir miskin di bulan Ramadan. Anehnya, mereka menolak bergabung dengan agama Yahudi maupun Nasrani yang sudah lebih dulu menyebar di tanah Arab.
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam menyebut gerakan kecil ini dengan istilah hanifiyyah. Penganutnya disebut hanif (jamak: hunafa), yaitu orang yang keluar dari agama kaumnya dan meninggalkan peribadatan mereka. Dalam bahasa Arab Selatan, hanif berarti keluar atau berbelok dari keyakinan kaumnya, sementara dalam bahasa Aram, kata ini justru bermakna munafik atau kafir.
Orang Quraisy sendiri, menurut Abdul Aziz, pernah menyebut Nabi Muhammad dan para pengikutnya sebagai al-shabi, yang artinya orang-orang yang ingkar. Namun dalam pandangan Islam, para hunafa justru dianggap mulia: mereka mengingkari berhala, menolak akhlak buruk masyarakat, dan menganut agama Ibrahim, sang bapak monoteisme.
Baca juga: Turunnya Al Qur’an Jadi Transformasi dari Jahiliyah ke Masyarakat Modern
Para hunafa datang dari berbagai kabilah dan tidak memiliki organisasi yang rapi. Abdul Aziz menyebut mereka sebagai kelompok orang yang menyerukan perbaikan, mengajak kembali kepada penyembahan Tuhan yang Esa, menolak mabuk-mabukan, berjudi, dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Sebagian mereka cenderung kepada ajaran Nasrani, tetapi tidak memeluknya sepenuhnya.