LANGIT7.ID, Jakarta - Freddy Budiman dikenal sebagai seorang gembong narkoba yang dieksekusi mati di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada 29 Juli 2016. Meski begitu, akhir hayat pria kelahiran 18 Juli 1977 itu menjadi impian setiap muslim.
Freddy berulang kali terjerat kasus pengedaran narkoba. Ia bahkan dikena sebagai salah satu bandar narkoba dengan jaringan internasional. Dia divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena mengimpor 1.412.476 butir ekstasi dari China pada Mei 2012.
Akan tetapi, akhir hidup Freddy sangat indah. Suatu ketika, Ustadz Fatih Karim mengisi kajian di rutan tempat Freddy di penjara. Ia mengaku tak mengenal semua narapidana yang mengikuti pengajian.
"Ketika saya melihat di kanan, ada orang pakai baju koko putih, pakai kopiah putih, berjenggot mulai memutih, dari tadi sampai akhir pengajian saya menangis. Pipinya basah dengan air mata. Saya tanya ke petugas penjara tentang sosok itu, 'itu adalah Fredy Budiman'," kenang Fatih KarimKarim dalam salah satu ceramahnya di Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang disiarkan kanal YouTube Pro-U Media, dikutip Sabtu (15/1/2021).
Ustadz Fatih Karim sempat meminta bertemu dengan Freddy. Namun tak diperbolehkan lantaran kala itu merupakan hari pembacaan surat eksekusi mati Freddy. Ia hanya mendapat pengakuan dari sipir penjara yang menyaksikan keseharian Freddy.
Freddy dieksekusi mati dua hari setelah pembacaan surat putusan. Ia diberi dua permintaan terakhir. Namun, permintaan Freddy tak muluk-muluk. Pertama, ia hanya ingin diizinkan membaca dua kalimat syahadat sebelum peluru dilesatkan ke jantungnya.
Permintaan pertama itu diizinkan. Permintaan kedua membuat hakim berpikir dua kali. Pasalnya, Freddy meminta penutup matanya dilepas saja saat hendak ditembak mati. Ia tetap memohon-mohon untuk itu, akhirnya diizinkan.
"
Antum tau, sejak dibacakan surah itu, sampai hari H, Freddy khatam Qur'an 7 kali. Makanya, kerjaan Fredy hanya shalat, zikir, baca Qur'an," kata Fatih Karim.
Detik-detik eksekusi mati, ketika tangan dan kaki diikat dan dibawa ke tiang eksekusi, freddy tak pernah melawan. Ia begitu tenang menghadapi kematian. Saat regu penembak menghitung dari angka 10, Freddy terus tenang.
Hingga hitungan kelima, regu penembak menghitung dengan pelan untuk memberikan kesempatan bagi Freddy mengucapkan dua kalimat syahadat. Keajaiban terjadi setelah itu. Freddy tak mengalami kejang-kejang apalagi muntah darah setelah peluru tajam menembus jantungnya.
"Hanya seperti orang pingsan. Tangan dan kakinya dilepas, pas diangkat, jenazahnya ringan, padahal badannya tinggi besar. Kata Sipir penjara, badannya ringan. Ketika ditaruh di keranda jenazah, wajahnya senyum," ucap Fatih Karim mengenang cerita dari sipir penjara.
Jenazah Freddy juga memperlihatkan tanda-tanda husnul khatimah. Di jidat beliau terdapat keringat sebesar butir jagung.
"Ketika melihat foto jenazah Freddy Budiman tersenyum, saya menangis. Di keningnya ada keringat sebesar butir-butir jagung, sebagaimana kata Rasulullah, itu tanda-tanda
husnul khatimah," kata Freddy.
(jqf)