LANGIT7.ID - , Jakarta - Pernahkah Anda merasa iri saat melihat keberhasilan orang lain? Atau kemudian berupaya untuk menjatuhkannya? Hati-hati, mungkin Anda tengah terjebak dalam kondisi
crab mentality. Istilah tersebut merupakan metafora dari perilaku kepiting di dalam ember yang tidak akan membiarkan kepiting lain keluar atau melarikan diri dari ember. Mereka akan kembali menariknya ke bawah kepiting yang mencoba kabur keluar.
Baca juga: Cara Jaga Kesehatan Mental, ALAMI Cetuskan Program 4 Hari KerjaMaster Trainer dan Transformation Coach Lucy Kusman mengatakan
crab mentality merupakan sebuah istilah yang menggambarkan situasi dimana orang-orang sering menghentikan orang lain untuk maju.
"Ini semacam metafora, jika kita lihat kepiting-kepiting yang ada di ember dan ada satu kepiting yang berusaha naik atau keluar dari ember, biasanya akan ditarik sama temen-temennya biar dia turun lagi. Metafora ini sebetulnya menggambarkan situasi dimana orang-orang sering menghentikan orang lain untuk maju," kata Lucy channel Youtube Bincang Sehati "Mengenal Crab Mentality".
Menurut dia, tidak ada penyebab khusus orang memiliki mental kepiting. Ia mengatakan, secara alami manusia memang suka membandingkan diri dari orang lain.
Tujuannya baik, karena ia ingin belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Namun, harus dipagari dengan pikiran yang tepat, jika tidak ia akan membuat kepercayaan diri menjadi turun.
"Misal tidak puas sama diri sendiri, iri hati dan akhirnya menimbulkan pemikiran-pemikiran negatif. Nah, kalau sudah ada di posisi seperti ini biasanya orang itu jadi tidak suka melihat orang yang lebih baik atau lebih maju." sambungnya.
Dalam posisi seperti itu, tanpa disadari ada berbagai cara untuk menahan kemajuan orang lain atau bahkan menjatuhkan orang lain yang dianggapo lebih sukses. Di samping itu, lingkungan juga jadi salah satu faktor munculnya
crab mentality di dalam diri.
"Munculnya
crab mentality itu pengaruhnya jelas ada dari lingkungan, karena kita akan menjadi sangat mirip dengan orang-orang yang dekat dengan lingkungan kita." sahut Lucy.
Misalnya Anda sering berkumpul dengan grup yang punya mentalitas kepiting. Biasanya saat bertemu, isi obrolan hanya seputar gosip, membicarakan kejelekan orang lain, dan melihat orang lain sukses dengan pola yang negatif.
"Jika kita terus-terusan bergaul dengan orang seperti itu, perlahan-lahan kita juga akan terpengaruh," jelasnya.
Kemudian, Lucy mengatakan crab mentality itu terbagi menjadi dua sisi. Pertama orang yang menjadi korban, kedua orang yang menjadi inisiasi atau yang punya crab mentality.
"Cara mengetahui bahwa kita mengalami mental kepiting, dengan menyadari bahwa kita mempunyai perasaan-perasan seperti kesel, suka marah melihat kesuksesan orang lain dan sebagainya," tuturnya.
Lalu, untuk mengatasi orang dengan
crab mentality, Lucy mengatakan harus diketahui akarnya atau sumbernya.
Baca juga: Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia Cukup Baik tapi Penanganannya Belum Merata"Dia seperti itu karena apa? Jika memang ada hal-hal yang sangat berat yang memungkinkan dia untuk bertemu dengan psikolog, ya silahkan," kata Lucy.
Tapi, bila ternyata kita yang mengalami
crab mentality, coba fokus dengan perbaikan diri. Cari kompetensi atau kemampuan-kemampuan apa yang bisa ditingkatkan sehingga perlahan-lahan bisa mulai mendapatkan pencapaian-pencapaian dalam hidup.
"Jika sudah mendapatkannya, biasanya akan ada rasa puas. Kemudian, itu akan membuat kita merasa bahwa kita mampu. Jika sudah seperti ini maka secara perlahan rasa kepercayaan diri kita akan timbul kembali," imbuhnya.
(est)