LANGIT7.ID, Jakarta - Jazirah Arab merupakan daerah penting pada masa sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi rasul. Masyarakat di sana memang disebut jahiliyah, tapi kata jahiliyah tidak bisa diidentikkan dengan primitif atau pun tidak memiliki pengetahuan sama sekali.
Jahiliyah berasal dari kata
jahl. Kata jahl bisa saja tahu, hanya saja mengetahui sesuatu tidak seperti apa adanya. Ibarat seseorang memiliki telepon pintar, namun telepon itu dipakai mengusir atau melempar binatang buas. Ia salah menempatkannya.
Di sisi lain, Jazirah Arab memang terkenal dengan kasus-kasus rimba sebelum Rasulullah datang. Pembunuhan di mana-mana, tidak ada kehormatan bagi perempuan, tawaf di ka'bah tak memakai sehelai benang pun, hingga kemusyrikan.
Namun, ada pula tindak laku positif pada masa itu, misalnya pembelaan terhadap keluarga. Orang Makkah memiliki solidaritas kekeluargaan yang sangat tinggi. Jika satu anggota keluarga dihinakan, semua anggota keluarga lain ikut terhina. Jika ada jatuh miskin atau mengalami kesulitan, semua keluarga yang lain akan ikut membantu.
"Artinya, kita tidak bisa memahami jahiliyah dari sekadar kasus-kasusnya. Mereka harus dipahami secara komprehensif, sebagai materi dasar untuk mempelajari Sirah Nabawiyah," kata Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal
YouTube SCI, Selasa (18/1/2022).
Pada masa itu, Yatsrib atau Madinah berada di persimpangan jalan atau sebagai kota transit perdagangan yang sangat penting, karena menghubungkan jalur utara dan selatan. Sebagai kota transit berarti kehidupan ekonomi di Madinah memiliki potensi tinggi.
Meskipun begitu, Yatsrib masih kalah dengan Mekkah. Makkah adalah sebuah wilayah yang dikenal dengan sistem manajemen hebat dan menjadi tujuan pada masa jahiliyah. Sistem perdagangan pada masa itu bergantung pada manajemen pasar musiman.
Ada sekitar 14 pasar musiman yang sangat terkenal di seluruh Jazirah Arab. Tiga di antaranya dikendalikan dari Makkah. Ini semua memanfaatkan musim haji, di mana masyarakat dari berbagai bangsa datang ke Mekkah untuk berhaji.
"Nah, ini yang tidak dimiliki oleh Madinah. Artinya, Madinah secara potensi bagus, tapi dia kalah dari Makkah, tentu Jazirah Arab secara keseluruhan. Madinah itu kota kecil. Secara demografi, madinah pun sudah pasti kalah dari Makkah," kata Asep Sobari.
Mekkah era JahiliyyahJahiliyah di Makkah bukan berarti primitif atau tidak ada norma yang berlaku di tengah masyarakat. Jazirah Arab secara umum menghubungkan Timur dan Barat. Ini karena hubungan antara Afrika dan Eropa dengan wilayah timur seperti India dan China mau tidak mau harus melewati Jazirah Arab.
"Jalur darat ada yang disebut jalur sutra, mau tidak mau harus masuk ke pinggir Jazirah Arab. Kalau dari laut itu sudah pasti, karena laut dari China Selatan masuk ke Asia Tenggara, India lalu ke Arab," kata alumnus Universitas Islam Madinah ini.
Pedagang-pedagang dari Cina atau dari Timur akan berhenti di Oman, Bahrain, dan di Yaman. Dagangan tersebut lalu diteruskan oleh pedagang Arab untuk sampai ke Afrika Timur, Afrika Tengah, Afrika Utara lalu ke Eropa.
"Jadi, ini membuat Jazirah tidak terpencil. Sejak dari awal, Mekkah dan Madinah itu adalah penghubung. Dari aktivitas perdagangan dunia saat itu, yang paling menentukan adalah pedagang Arab, dan yang paling menentukan pedagang Arab adalah Quraisy," kata Asep Sobari.
Ini yang membuat Makkah terhubung ke dunia internasional melalui aktivitas dagang itu. Hanya saja, mereka tidak membangun peradaban sebagaimana Persia dan Romawi, karena mereka jahiliyah. Mereka tidak memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun peradaban besar.
"Mereka orang kaya. Bisa lebih kaya. Mereka pedagang penghubung antara pedagang Timur dan Barat. Mereka bisa menentukan harga, tapi mereka tidak memiliki obsesi lebih dari sekadar pikiran jahiliyah saja," ucap Asep Sobari.
Sebab, orang jahiliyah memahami materi secara parsial. Antara alam materi dan alam ghaib tidak terhubung. Mereka lebih percaya mitos, seperti mengundi nasib. Padahal, kalau mereka tidak melakukan itu, bisa saja mereka lebih kaya dengan memanfaatkan kedudukan strategis tersebut.
Meski begitu, Makkah tidak bisa diremehkan. Penguasa Makkah kala kitu, yakni Quraisy dikenal sebagai suku dengan sistem manajemen sangat cerdas. Meski secara demografi kecil, mereka mampu mengendalikan semua suku di Mekkah. Setelah mengendalikan Mekkah, mereka pasti bisa kendalikan Jazirah Arab.
Sistem Pemerintahan di MakkahSebelum Islam datang, Mekkah lebih dikenal sebagai negara-kota. Tradisi yang berlaku berdasarkan kesukuan alias kabilah. Daerah ini sudah dikunjungi dari berbagai bangsa untuk berhaji.
Di sana, bangunan ka'bah sudah disucikan secara turun-temurun, meskipun masih ada yang menyertainya dengan kepercayaan berhala.
Akibat ketertarikan banyak pihak untuk datang ke lembah yang dikelilingi banyak gunung tersebut, penguasa setempat mulai menyadari pentingnya struktural dan tanggung jawab guna melayani para tamu yang berkunjung.
Suku Quraisy menjadi penguasa pertama yang memikirkan perlunya pelayanan ekstra berupa jaminan keamanan bagi para pengunjung. Mulai saat itulah, di Makkah dibentuk banyak institusi demi meningkatkan fasilitas dan pelayanan.
Tokoh yang mempelopori gagasan itu adalah Qushay bin Kilab. Leluhur Nabi Muhammad SAW itu membagikan tanggung jawab sesuai porsi dan kebutuhan para tamu Kota Makkah. Saat itu pula didirikan lembaga perkotaan atau Nadwa.
Di Nadwa, terdapat departemen-departemen khusus yang jarang dipakai dalam sistem kabilah lain. Di antaranya Mashura atau dewan penasihat kota, Sadana (lembaga administrasi minum), Imarat al Bait (institusi pengelola Ka'bah), dan fada atau institusi yang memiliki hak untuk memberikan izin pada delegasi perayaan.
Ada juga
ijaza atau
Nasi (lembaga perumus/penyesuaian kalender),
Qubba (tim penggalangan dana bencana),
A'inna (satuan pengendali kuda),
Rafada (lembaga penarik pajak dan penyalur amal bagi haji miskin),
Asyar dan
Asynaq (penanggung jawab laporan keuangan kota),
Hukuma (kepolisian),
Sifarah (kedutaan), serta
Uqab (lembaga standarisasi pelayanan).
Selepas Qushay wafat, nomenklatur di atas masih dipertahankan. Malahan, putranya sendiri, Abdu Manaf, mengembangan dan menahkodai departemen hubungan luar negeri. Sementara Hasyim, anak Abdul Manaf mengambil alih departemen urusan logistik bagi para tamu Allah Ta'ala.
Mekkah terus merawat sistem kenegaraan berbasis kesukuan berupa kekuatan hubungan darah daging. Mereka belum mengenal negara-negara dengan perspektif lebih luas.
"Sehingga ketika Rasulullah muncul, sudah ada sistem kekuasaan, ada tokoh-tokoh, jadi Rasulullah tidak berhadapan dengan orang, tapi berhadapan dengan sebuah sistem," ucap Asep Sobari.
(jqf)