LANGIT7.ID, Jakarta - Sebelum Muhammad diutus menjadi rasul dari Jazirah Arab, tersebar sebuah sistem nilai yang disebut jahiliyah. Secara bahasa, jahiliyah memang diartikan sebagai bodoh.
Akan tetapi, masyarakat Arab pada masa itu tidak sepenuhnya bodoh. Mereka cerdas, hanya saja tidak mampu menyambungkan antara materi dengan hal ghaib. Mereka menjadikan mitos sebagai pijakan sebuah tindak laku. Itu yang membuat mereka terhalang membangun peradaban besar.
Tradisi yang berlaku kala tu berdasarkan kesukuan alias kabilah. Di Makkah, Quraisy dikenal sebagai suku yang memiliki kemampuan manajemen tinggi. Mereka mampu mengendalikan perekonomian Jazirah Arab dari sekitar Ka'bah.
Maka itu, ketika Muhammad diangkat menjadi nabi, ia tak berhadapan dengan orang per orang. Tapi beliau berhadapan dengan sebuah sistem yang telah berkembang pada masa itu.
Apa baginda nabi ciut? Jawabannya tentu tidak. Beliau bergerak secara halus, hingga pada akhirnya pergerakannya dalam membangun peradaban tidak bisa diimbangi oleh kafir Quraisy. Pemahaman Makkah sebagai sebagai negara-kota luntur akibat cakupan dan daya tarik Rasulullah yang mampu melintasi sekat-sekat wilayah.
Makkah, ditambah Madinah, lantas menjadi kesatuan negara besar yang banyak dirujuk sistem dan tradisi yang diberlakukan di dalamnya. Rasulullah dikenal sebagai sosok sempurna, profesional, dan detail.
Pada saat bersamaan, beliau berperan sebagai mufti karena membawa risalah Islam, sebagai kepala negara dan panglima perang, serta sebagai hakim dan juru damai, termasuk urusan keluarganya secara internal.
Hal paling utama yang dilakukan Rasulullah untuk meretas sistem jahiliyah adalah membangun manusia baru. Ia membangun manusia baru yang berbeda dengan manusia jahiliyah. Istilah jahiliyah tak lagi sekadar penanda masa, tapi juga nilai.
"Kalau kita berpikir jahiliyah adalah masa, maka jahiliyah hanya menjadi bagian dari sejarah yang tidak lagi berlaku saat ini. Tapi jahiliyah sebagai nilai masih ada sampai saat ini," kata Asep Sobari dalam kajian Sirah Nabawiyah di kanal
YouTube SCI, Selasa (18/1/2022).
Pembangunan manusia baru itu tak mudah. Itu yang membuat Al-Qur'an sangat penting sebagai modal dan kurikulum materi dalam membangun peradaban manusia. Ada 86 surah dari 114 surah Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah.
"Surah itu diajarkan oleh Rasulullah untuk membangun manusia baru. Sehingga manusia baru itu dengan segala keterbatasan tidak bisa melahirkan apa-apa, tapi ketika di Madinah dan mengendalikan segala sesuatu, maka jadi sebuah peradaban. Rasulullah mengobrak-abrik sistem jahiliyah dengan cara halus," kata Asep Sobari.
(jqf)