LANGIT7.ID, Jakarta - Proses menghafal Al-Qur'an tidak hanya membaca ayat per ayat secara berulang, sehingga hafal otomatis dalam pengucapan. Pada proses menghafal, unsur ingatan visual juga sangat ditekankan.
Setia dengan satu jenis mushaf merupakan saran penting dari para guru-guru tahfidz. Sebaiknya mengkhatamkan 30 juz dengan satu jenis cetakan mushaf lalu murajaah hafalan dengan jenis mushaf yang sama.
Unsur ingatan visual sangat susah didapatkan jika calon penghafal gonta-ganti mushaf Al-Qur'an. Kebiasaan ini membuat hafalan Qur'an tidak disertai ingatan pada tulisan-tulisannya, terjadi kebingungan saat hafalan terhenti di pertengahan ayat, hafalan tidak terasa kesalahan meski ada ayat yang terlewatkan, dan mengucapkan hafalan dengan tergesa-gesa tanpa terbayang huruf-hurufnya.
Pada dasarnya, boleh saja berganti mushaf asal menggunakan satu jenis cetakan saja. Sehingga ingatan visual dalam ingatan dan mushaf di tangan memiliki bentuk yang sama.
Menurut dai Kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH), ada tiga jenis mushaf yang kerap ditemui. Pertama, mushaf Tajwid. Mushaf ini biasanya digunakan untuk membantu seseorang benar membaca Al-Qur'an.
Kedua, mushaf tafsir. Mushaf ini ditandai dengan per kata dan ada terjemahan. Ini kalau ingin mudah memahami Al-Qur'an per ayat maupun perkata bisa menggunakan mushaf jenis ini.
"Tapi, mushaf ini disarankan tidak digunakan untuk menghafal, karena progresnya agak lambat. Kalau ingin menghafal Al-Qur'an, dari mushaf tahfiz," kata UAH dikutip kanal
YouTube taman firdaus, Selasa (18/1/2022).
Ada beberapa kriteria mushaf untuk hafalan, di antaranya satu halaman terdapat 15 baris, menggunakan khat Indonesia atau Madinah, hingga huruf-huruf yang tercetak terlihat jelas sehingga bisa digunakan dalam waktu panjang.
Yahya Bin 'Abdurrazzaq Al-Ghautsani dalam Kaifa
Tahfadz Al-Qur'an mengatakan, bagaimana pun cara menghafal Al-Qur'an yang penting tidak boleh berganti-ganti mushaf. Ini agar hafalan Qur'an tidak terjadi kebingungan dalam ingatan.
(jqf)