Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home sosok muslim detail berita

Dari Cicit Nabi sampai Guru Imam Syafi'i: Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam (Bag. II)

Muhajirin Rabu, 19 Januari 2022 - 19:30 WIB
Dari Cicit Nabi sampai Guru Imam Syafi'i: Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam (Bag. II)
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Baca Juga: Dari Cicit Nabi sampai Guru Imam Syafii: Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam (Bag. I)

3. Sayyidah Nafisah Guru Imam Syafi'i


Nafisah binti al-Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib lahir di Mekkah pada pertengahan Rabi'ul Awal 145 H. Saat berusia 5 tahun, ia dibawa ke Madinah, karena ayahnya diangkat menjadi gubernur oleh Khalifah Abu Ja'far al-Manshur.

Selama di Madinah, ia melewati hari-harinya dengan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Seringkali ia berada di Raudhah untuk berdzikir, berdoa, dan menangis. Ia juga bertemu dan mengaji ke beberapa perempuan ulama, baik dari kalangan sahabat maupun tabi'in sampai menguasai ilmu seperti Al-Qur'an, fikih, tafsir, dan hadits.

Dia dijuluki al-Ilm atau perempuan ulama. Saking cerdasnya, julukan itu suatu ketika ditambahkan menjadi Nafisah al-Ilm wa Karimah ad-Darain (perempuan ulama dan perempuan mulia di dunia akhirat).

Dia juga sering disebut sebagai Abidah Zahidah atau orang yang tekun beribadah dan asketis. Sebagian orang menyebutnya wali perempuan dengan sejumlah keramat.

Kesaksian tentang ibadah Nafisah disampaikan oleh Zainab, keponakannya. Selama 40 tahun, ia tidak pernah melihatnya tidur malam, tidak makan di siang hari, kecuali dua hari raya dan tiga hari tasyrik.

"Apakah bibi tidak menyayangi badanmu sendiri?" tanya Zainab.

"Bagaimana aku menyayangi diriku, sedangkan di depanku ada bahaya yang menghalangiku masuk, kecuali orang-orang yang beruntung?" jawa Nafisah.

Selain itu, Zainab juga mengatakan, Nafisah hafal Al-Qur'an dan menafsirkannya. Bahkan ia menangis saat membaca Al-Qur'an. Saat menuju Mesir, Nafisah menjadi sangat terkenal. Tak hanya di daerah Hijaz seperti Makkah dan Madinah, tapi juga Mesir dan Timur Tengah. Saat di Mekkah dan Madinah, para jamaah haji begitu terkesan dengan pengetahuannya yang luas dan kepribadiannya indah.

Saat di Mesir, ada cerita menarik mengenai pertemuan dan pertemanan Imam Asy-Syafi'i dengan Sayyidah nafisah. Imam Syafi'i sudah lama mendengar nama besar dan ketokohan Nafisah.

Setelah tinggal 5 tahun di Mesir, Imam Syafi'i datang berkunjung. Nafisah senang dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan kehangatan. Perjumpaan itu dilanjutkan dengan pertemuan yang sering. Keduanya saling mengagumi intelektualitas masing-masing.

Saat Imam Syafi'i mengajar di Masjid Fustat, ia mampir ke rumah Nafisah. Demikian juga sebaliknya. Disebutkan, Imam Syafi'i merupakan orang yang paling sering bersama dan mengaji Nafisah.

Dua ulama besar ini sering terlibat dalam diskusi-diskusi yang hangat, ilmiah, dan bersahabat. Mereka saling menghargai. Saat Ramadhan, Imam Syafi'i seringkali shalat Tarawih bersama Nafisah di masjidnya.

Jika Imam Syafi'i sakit, ia meminta Nafisah mendoakan kesembuhan. Saat mendoakan, ia mengatakan, "Matta'ahi Allah bi an-nazhar ila wajhih al-karim (semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa dengan-Nya)".

Mendengar ucapan itu, Imam Syafi'i paham bahwa ajalnya sudah dekat. Ia berwasiat kepada Al-Buwaithi, murid utamanya, agar Nafisah menyalati jenazahnya kelak saat wafat dan meminta jenazahnya dibawa ke rumah untuk dishalatkan.

Selain Imam Syafi'i, banyak ulama besar dari berbagai mazhab berkunjung ke rumah Sayyidah Nafisah. Di antara mereka ialah Abu al-Faidh Zhunnun al-Mashri, Imam Abu al-Hasan ad-Dinawari, Abu Ali ar-Rauzbari, Abu Bakar ad-Daqqaq, Imam Ismail al-Muzani asy-Syafi'i, dan Imam Abu Ya'qub al-Buwaithi.

Ada pula Abdullah bin Wahb al-Quraisyi al-Maliki, Imam Abu Ja'far ath-Thawi al-Hanafi, Abu Nasr Sirajuddin al-Mughafiri, Imam Yusuf bin Ya'qub al-Harawi, Imam Abu Zakaria as-Sakhawi, Al - Faqih al-Imam Ahmad bin Zarruq al-Maliki as-Sufi (ahli qiraat agung), Imam Warasy, Al-Imam al-Muhaddith asy-Syirazi, Abu al-Hasan al-Mushali, dan masih banyak lagi.

4. Zubaidah binti Abu Ja'far al-Manshur

Zubaidah binti Abu Ja'far al-Manshur lahir di Mosul, Irak, pada 766 M. Ia merupakan putri khalifah kedua Dinasti Abbasiyah. Ibunya bernama Salsabil. Ia menikah dengan Harun Ar-Rasyid.

Zubaidah dikenal sebagai ulama perempuan yang baik dan cerdas. Ia sangat menyukai ilmu pengetahuan dan sastra. Ia sering mengundang para sastrawan dan cendekiawan ke istana untuk berdiskusi tentang sastra dan membaca puisi.

Beberapa di antaranya ada Abu Nuwas, Husein bin adh-Dhahak, Al-Jahiz (sastrawan, filsuf, ilmuwan), Abu Al-'Athiyah, Musim bin al-Walid, dan lain sebagainya.

Dr. Muhammad Ahmad Abdul Hadi dalam majalah Asy-Syarq berjudul Perempuan Ulama Islam pada Abad Pertengahan menulis, "Lihatlah! Zubaidah istri/permaisuri Harun ar-Rasyid adalah perempuan ulama yang hafal Al-Qur'an, aktif dalam dunia sastra dan seni. Dinding kamarnya dihiasi dengan kaligrafi berisi puisi-puisi indah."

Pada zaman keemasan Islam, sastra dan ilmu pengetahuan bekembang pesat. Baghdad menjadi pusat peradaban dunia. Kesuksesan kepemimpinan Harun Ar-Rasyid ditentukan oleh Zubaidah.

Kebijakan pemerintahan Harun Ar-Rasyid dibantu oleh sang istri. Ia tak segan berbagi peran dengan sang suami. Jika suaminya keluar kota, ia dapat menangani tugasnya. Ia juga permaisuri yang cakap dan gesit.

Zubaidah juga dikenal sebagai ahli ibadah. Bahkan disebutkan jika ia memiliki 100 pelayan perempuan yang hafal Al-Qur'an. Setiap hari semaan Al-Qur'an di istana.

Dia juga yang mendirikan perpustakaan Baitul Hikmah. Perpustakaan ini diartikan sebagai Rumah Kebijaksanaan yang berfungsi sebagai tempat penghimpun buku-buku dan karya ilmu pengetahuan dari penjuru dunia, serta sebagai lembaga penelitian dan penerjemahan.

Dia juga mengusulkan dan mendorong Harun Ar-Rasyid untuk membangun sarana prasarana pendidikan dan gedung kesenian. Dia juga membiayai ratusan orang berhaji. Suatu ketika, ia berhaji dan sulit mendapatkan air zam-zam.

Seketika Zubaidah memanggil bendahara dan memerintahkan menyediakan insinyur dan arsitek. Mereka lantas membuat saluran air sepanjang 10 KM dari Mekkah hingga Hunain dengan menghabiskan biaya sekitar 1.700.000 dinar. Saluran itu kemudian diberi nama 'Ain Zubaidah'.

Zubaidah wafat di Baghdad pada 831 M. Ia dimakamkan di pemakaman Quraisy.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)