LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam upaya mendakwahkan agama Islam, Nabi Muhammad Saw pada masanya mengalami banyak godaan dan tantangan, baik dari kaum kafir Quraisy mapun dari bangsa Yahudi dan Nasrani. Namun Rasulullah Saw tetap istiqamah mendakwahkan kebaikan sehingga Islam bisa diterima oleh masyakat Arab saat itu bahkan tersebar luas hingga saat ini.
Salah satu sifat kenabian yang ada pada Rasulullah Saw adalah sifat Istiqamah. Walaupun nabi digoda dengan berbagai hal bahkan dengan ancaman pembunuhan, nabi tetap berdakwah. Karena itu tujuan diturunkannya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Berikut tafsir surat Al-Ahzab ayat 1-3:
1. Perintah Istiqamah dan tidak menuruti orang kafirDi dalam Al-Qur'an surat Al Ahzab ayat pertama, Allah SWT memerintahkan kepada nabi untuk tidak menuruti keinginan orang-orang yang ingkar kepada Allah.
Baca Juga: Jeje Zaenudin: Kita Tak Bisa Hidup Moderat Tanpa Bimbingan Islamيٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ
Artinya: Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS Al Ahzab: 1).
"Ayat ini menerangkan tentang perintah kepada umat nabi untuk bertakwa kepada Allah. Takwa memiliki pengertian mengamalkan ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya dari Allah," ujar Ustaz Nurdin, dikutip dari Youtube Dakwah Persatuan Islam, Kamis (20/1/2022).
Ustaz Nurdin menjelaskan mengamalkan ketaatan itu harus sesuai dengan keterangan dari Allah. Jangan sampai mengamalkan ketaatan tidak berdasarkan keterangan Allah di dalam Al-Qur'an.
"Takwa berarti mengamalkan ketaatan karena mengharapkan ganjaran dari Allah, dan meninggalkan kemaksiatan karena takut akan siksa Allah," ujar Ustaz Nurdin.
Ustaz Nurdin menjelaskan sebab turunnya ayat itu berdasarkan keterangan Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. Pada saat nabi menyampaikan risalah dari Allah, orang-orang munafiq seperti Al Walid bin Mughirah dan Syaibah bin Rabiah mengajak nabi supaya berhenti berdakwah.
"Orang-orang munafiq itu berjanji akan memberikan separuh dari hartanya kepada nabi asalkan berhenti berdakwah. Bahkan orang-orang Yahudi mengancam akan membunuh nabi jika tidak berhenti berdakwah. Namun nabi tetap istiqamah penyampaikan wahyu Allah Swt," jelas Ustaz Nurdin.
Baca Juga: Surat Al Anam Ayat 108: Larangan Memaki Sesembahan Agama LainSuatu ketika Nabi Muhammad Saw pernah ditawari dengan jabatan tinggi di Makkah agar berhenti berdakwah, namun nabi menolak karena bukan itu tujuannya berdakwah. Tidak mempan dengan tawaran jabatan, kaum kafir Quraisy menawari nabi dengan harta yang berlimpah asalkan berhenti berdakwah, namun nabi tetap istiqamah dalam dakwah karena harta bukan tujuannya. Begitu pula nabi tetap istiqamah berdakwah meskipun ditawari istri.
"Semakin tinggi suatu pohon maka semakin besar angin yang menerpanya. Begitu pula manusia, semakin tinggi ilmu dan pengalamannya, semakin berat juga godaannya," terang Ustaz Nurdin.
2. Perintah mengikuti wahyu Allah وَّاتَّبِعْ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًاۙ
Artinya: dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan, (QS Al Ahzab: 2).
Ustaz Nurdin menjelaskan, di ayat berikutnya dari surat Al Ahzab, kunci hidup selamat di dunia dan akhirat yakni dengan mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah. Perintah Allah kepada nabi dan umatnya tentu saja baik, dan Allah menjamin hal itu. Dia tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang akan membuat kerusakan bagi hambanya.
Di ayat yang lain digambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengikuti mayoritas kehidupan umatnya saat itu, tetapi nabi hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya.
Baca Juga: Lima Kewajiban Dasar Setiap Muslim, Puncaknya Bela Agama Allah"Godaan kepada nabi dalam berdakwah luar biasa, hanya saja nabi memiliki sifat istiqamah yang membuat dakwahnya berhasil," ujar Ustaz Nurdin.
3. Perintah bertawakal kepada Allahوَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
Artinya: dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara. (QS Al Ahzab: 3).
Ustaz Nurdin menjelaskan setelah melakukan perintah Allah dengan segala tantangannya barulah manusia berhak bertawakal, dengan menyerahkan segala hasilnya kepada Allah. Seseorang tidak dapat dikatakan bertawakal bila ia belum berusaha sama sekali.
Ketika seseorang bekerja mencari nafkah misalnya berdagang. Setelah dia berdagang sesuai dengan aturan yang berlaku, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah.
Baca Juga: Pesantren di Thailand, Mercusuar Islam di Negeri Buddha"Seseorang yang bertawakal setelah berusaha, maka bila berhasil dia akan bersyukur dan apabila gagal dia akan sabar," ujarnya.
(zhd)