LANGIT7.ID, Jakarta - Mayoritan umat muslim di Indonesia menganut Islam sejak lahir, kemudian belajar agama Islam saat beranjak dewasa. Namun terkadang masyarakat terbuai dengan Islam yang diwarisi dari kedua orang tuanya sehingga malas untuk belajar Islam lebih dalam.
Pada dasarnya, seluruh kaum muslimin memiliki kewajiban yang sama dalam agama Islam. Di antara tugas pokok setiap muslim itu antara lain:
1. Meyakini Islam dengan Segenap HatiMeyakini dengan segenap hati bahwa Islam sebaik-baiknya agama yang diturunkan oleh Allah ke muka bumi. Kemudian meyakini bahwa agama Islam yang ada saat ini berkesinambungan dengan ajaran nabi-nabi sebelumnya.
"Pokok-pokok ajaran Islam sama, di antaranya pokok akidah, pokok ibadah, pokok hukum, dan sebagainya. Walaupun berbeda dalam praktiknya disesuaikan dengan tempat, situasi dan kondisi," ujar Wakil Ketua Umum PP Persis, KH Jeje Zaenudin, dikutip dari Persis TV Channel, Senin (10/1/2021).
Allah SWT berfirman:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya: "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS Ali Imran: 19).
Baca Juga: Persis Minta UNHCR Serius Tangani Pengungsi di IndonesiaMenurut Kiai Jeje, Allah tidak pernah menurunkan agama kepada para nabi di muka bumi selain Islam atau tauhid. Namun kedengkian umat terdahulu menyebabkan terhalangnya hidayah dari Allah Swt, sehingga banyak umat yang menyimpang dari ajaran tauhid.
Di surat As-Syura ayat 13 Allah mengabarkan bahwa apa yang diwasiatkan dulu kepada Nabi Nuh alaihis salam diwasiatkan juga kepada Nabi Muhammad Saw. Dan di antara keduanya ada nabi-nabi lain yang semuanya membawa risalah tauhid, sehingga Islam menjadi agama yang mengakui semua ajaran nabi terdahulu.
"Kaum muslimin tidak memusuhi agama manapun, karena mengakui ajaran-ajaran yang dibawa nabi terdahulu. Yang ditolak oleh kaum muslimin adalah penyelewengan yang dilakukan umat-umat sebelumnya," ujar Ketua STAIPI Jakarta ini.
2. Mempelajari Ajaran Agama IslamIman yang tidak didukung ilmu dapat menyebabkan penyelewengan. Iman tanpa ilmu juga dapat menciptakan angan-angan atau dugaan-dugaan. Imbasnya agama lebih banyak mengikuti dugaan dari pada keterangan.
"Maka tidak cukup beriman atau meyakini saja, tapi wajib mempelajari apa yang diyakininya dengan benar," kata Kiai Jeje.
Menurut dia, Iman tidak dapat dipisahkan dari ilmu sebagaimana ilmu tidak dapat dipisahkan dari amal shalih. Maka bab yang paling banyak dibahas sebelum membahas apapun adalah bab ilmu.
Ilmu merupakan tiang penyangga dari iman yang kuat. Maka Allah mengecam sebagian ahli kitab yang membabi-buta dalam keimanan tanpa disertai ilmu yang kuat.
Ilmu yang kuat salah satunya diperoleh dengan memahami kitab suci dengan baik. Bahaya yang ditimbulkan jika seorang muslim tidak memahami isi kitab suci di antaranya membuka peluang pemuka Islam untuk memanipulasi agama demi kepentigan sendiri.
Baca Juga: MUI: Islam Sumber Inspirasi Kebudayaan NasionalKiai Jeje mengatakan, umat Islam di Indonesia saat ini sekitar 230 juta jiwa, pada tahun 2017, survei penelitian buta huruf terhadap Al-Qur'an menunjukan angka 53 persen. Artinya lebih dari 100 juta muslim mengalami buta huruf Al-Qur'an.
"Itu baru buta huruf saja, lalu berapa persen yang buta pengertian Al-Qur'an, lalu berapa persen yang buta pengamalan Al-Qur'an," ujar Jeje.
3. Mengamalkan Ajaran Islam dengan Sebenar-benarnya Ajaran Islam sangat luas, ada yang yang bersifat umum ada pula yang bersifat pribadi. Ajaran yang bersifat pribadi disebut fardu ain sedangkan yang bersifat umum disebut fardu kifayah.
Kiai Jeje mengatakan, mengetahui rukun iman dan mengetahui hukum halal dan haram termasuk ke dalam fardu ain. Apabila, seseorang tidak mengerti rukun iman dan rukun Islam serta praktik ibadah sehari-hari maka berdosa. Apapun profesi seorang muslim maka wajib mengetahui ilmu fardu ain untuk bekalnya beribadah sehari-hari.
4. Wajib Mendakwahkan Ajaran Islam Menurut KemampuannyaSetiap muslim juga sekaligus dai. Paling tidak dai untuk diri dan keluarganya. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104).
Mudirul am Pesantren An Nahla ini mengatakan, dakwah secara umum termasuk fardu ain, sedangkan dakwah secara khusus termasuk fardu kifayah. Dakwah umum yakni seorang muslim di mana saja wajib mencegah keburukan dan mencontohkan kebaikan. Disebut juga amar ma'ruf nahi munkar.
"Hakikat dakwah adalah menuntun orang dalam kebaikan. Orang tua wajib menuntun anak-anaknya, suami menuntun istrinya, teman menuntun temannya yang lain, dan sebagainya," ujar Kiai Jeje.
Baca Juga: Kiai Didin Hafidhuddin Dorong Ormas Islam Perkuat KolaborasiNabi Muhammad SAW bersabda: Man ra'a minkum munkaran fal yugayyirhu biyadihi, fa in lam yastati' fa bilisanihi, fa in lam yastati' fa biqalbihi, wa dzalika adh'aful iman. (Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan ini merupakan iman paling rendah).
Dakwah khusus yakni seseorang yang mengajarkan tentang hukum Islam, seperti misalnya khatib. Maka menjadi khatib ada syarat tertentu. Demikian pula seorang yang mengajarkan ilmu tafsir ada pula syarat keilmuannya. Kewajiban yang dibebankan kepada sebagian umat hukumnya menjadi fardu kifayah.
"Kita wajib mengambil bagian dari dakwah. Dakwah dengan lisan, dakwah dengan tangan, dakwah dengan harta, dan apapun yang bisa mendukung tegaknya dakwah," kata Kiai Jeje.
5. Memperjuangkan dan Membela Agama Allah Puncak dari kewajiban seorang muslim terhadap agamanya. yakni membela dan memperjuangkan Islam. Sebagaimana firman Allah dalam surat Muhammad ayat tujuh, "Wahai orang yang beriman jadilah kamu pembela-pembela agama Allah."
Ketua MUI Pusat ini mengatakan, seseorang dalam membela agama bisa dengan apa saja yang dia mampu. Seorang kepala rumah tangga, jadilah pembela agama di dalam rumah tangga. Seorang kepala daerah, jadilah pembela agama di daerah yang dipimpinnya. Apapun profesi seorang muslim hendaknya membela agama Allah dengan kemampuan yang ia bisa.
"Oleh karena itu sebagai seorang muslim kita harus memiliki kekuatan, baik kekuatan ilmu, kekuatan ekonomi, kekuatan fisik, kekuatan posisi, dan kekuatan apapun yang kita mampu untuk menolong Agama Allah," ujar Kiai Jeje.
Baca Juga: Anggota DPR Minta Presiden Jeda Peleburan Lembaga Riset ke BRIN(zhd)