Langit7, Jakarta - Properti syariah kian diminati oleh masyarakat, khususnya umat Islam yang menghindari transkaksi ribawi. Di sisi lain, kredit pemilikan rumah (KPR) syariah juga tumbuh positif dibandingkan konvensional.
Dari survei yang dilakukan Rumah.com pada semester II-2020, kenaikan preferensi konsumen untuk memilih KPR Syariah mencapai 35 persen. Sedangkan peminat KPR konvensional turun menjadi 29 persen semester II-2020.
Kunci berkembangnya bisnis properti syariah ini karena pihak perbankan syariah yang terus berupaya menciptakan ekosistem pembiayaan syariah inklusif. Sehingga dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga: Ini 2 Keuntungan Pengembangan Produk HalalManisnya berbisnis properti syariah itu juga dirasakan muslim asal Malang, Rendra Masdrajad Safaat. Dalam hal ini, dia berupaya membangun hunian Islami berupa pemukiman tanpa campur tangan bank dan denda.
"Jadi jauh dari riba. Walaupun awalnya memang terlihat sulit, tapi setelah dijalani ternyata respon masyarakat bagus juga," ujarnya seperti dikutip dari kanal YouTube PecahTelur.
Pemilik Properti Primaland ini mengatakan, bisnis yang dia kembangkan sedikit berbeda dari sistem perbankan konvensional.
Uang muka atau DP yang diberlakukannya memang cukup besar, yakni 30-50 persen. Namun, cicilan rumah akan selesai dalam tempo dua tahun, sesuai dengan perjanjian.
"Banyak yang mau beli rumah tanpa perlu berhutang di bank. Jadi DP kita sekitar 30-50 persen dari harga rumah, dan cicilannya pun hanya 2-3 tahun. Berbeda dengan KPR dari bank yang bisa sampai 15 tahun," jelasnya.
Rendra menerapkan aturan itu bukan tanpa alasan, ia menginginkan agar para nasabahnya itu lekas terbebas dari lilitan 'utang' atau kewajibannya melunasi hunian rumah.
Selain itu, dia juga mendorong agar orang yang terlibat transaksi dengannya memahami syariat Islam soal utang-piutang. Sehingga, cita-citanya mewujudkan lingkungan yang Islami dapat terwujud.
"Secara tidak langsung, skema pembayaran cicilan rumah itu memang menyasar kepada masyarakat dengan latar belakang ekonomi menengah ke atas," ujarnya.
Baca juga: Inovasi Batik Antarkan Milenial Ini Sukses Kembangkan UsahaKendati demikian, saat ini Primaland masih berupaya mengembangkan bisnisnya untuk bisa menyasar masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah.
Adapun lokasi yang digunakan untuk properti perumahan cukup strategis. Seperti dekat dengan kampus, masjid, jalan raya dan fasilitas umum lainnya.
"Jadi kami menjual konsep kawasan hunian Islami, di situ akan lengkap tersedia lapangan berkuda, kolam renang, dan lapangan memanahnya," tambahnya.
Sebagai perusahaan properti, Primaland berusaha untuk mewujudkan rumah halal Indonesia yang mengusung perumahan syariah.
Primaland ini, kata Rendra, ingin mengajak kepada warganya untuk dekat dengan masjid dan sunnah, termasuk anak-anak. Untuk itu, dia membangun peradaban Islam melalui hunian Islami.
"Kami punya mimpi besar bagaimana Primaland ini bisa hadir di semua kota dan mewarnai hunian Islami melalui properti syariah," tambahnya.
Baca juga: Jokowi Ingin Indonesia Bertransformasi Hadapi Hiper-Kompetisi DuniaKe depan, Rendra menargetkan Primaland bisa menjadi perusahaan terbuka atau initial publik offering (IPO). Sehingga nantinya, dia akan menawarkan saham kepada khalayak publik untuk bersama-sama membangun peradaban Islami.
"Semoga Allah meridhoi kami agar pada 2025 bisa IPO dan dana yang masuk dapat dikembangkan bersama. Salah satunya mewujudkan hunian Islami untuk masyarakat menengah ke bawah yang cicilannya hanya Rp800 ribu - Rp 1 juta, tanpa utang bank dan denda," ungkapnya.
(zul)