LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, menjadikan kitab
Ar-Rahiqul Makhtum sebagai rujukan untuk pemula yang ingin memahami Sirah Nabawiyah secara umum.
Buku tersebut merupakan kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis dalam bahasa Arab dan Urdu oleh Safiur Rahman Mubarakfuri, Ulama asal India. Versi bahasa Arab kitab ini meraih anugerah juara pertama Liga Muslim Dunia dalam
Islamic Conference on Seerah, menyusul kompetisi terbuka untuk buku Sirah Nabawiyah pada 1979 M.
Buku ini sangat menarik karena paparan sirah dibuat ringkas dan lengkap, dari pra kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai wafat. Bisa dikatakan, semua materi pokok tentang Sirah Nabawiyah sudah ada dalam buku itu.
"Jadi, tidak perlu membuka buku berjilid-jilid untuk mengetahui secara garis besar pra kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai beliau wafat," kata Asep melalui kanal
Sirah Community Indonesia, dikutip Senin (31/1/2022).
Buku ini memuat 400-500 halaman, tergantung desain penerbit masing-masing. Sebab, buku ini diterbitkan oleh puluhan penerbit, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Latar Belakang Lahirnya Ar-Rahiqul MakhtumMemasuki abad ke-15 H pada 1400 H, ada semacam euforia kaum muslim terkait kebangkitan Islam. Masa-masa itu merupakan akhir dari sejarah kolonialisme Barat.
"Ada kesadaran yang tumbuh di berbagai di negara dunia untuk memberanikan diri, kemudian muncul sosok-sosok yang berpengaruh seperti Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Hasan Al-Banna," kata Asep.
Kesadaran itu terus menggeliat sehingga melahirkan harapan besar kebangkitan umat Islam saat memasuki abad ke-15 H. Salah satu bentuk geliat itu adalah pergelaran Muktamar Internasional Sirah Nabawiyah pada 1396 H/1976 M.
Muktamar pertama digelar di Pakistan. Tokoh-tokoh muslim ternama pada masa itu ikut terlibat dalam muktamar tersebut. Pada muktamar itu pula diumumkan perlombaan penulisan Sirah Nabawiyah oleh
Rabithah Al-Islamiyah (Liga Muslim Dunia) yang berpusat di Mekah.
Panitia memberi tenggat waktu selama kurang lebih satu tahun penulisan. Lalu, pada Muktamar kedua pada 1977 M, panitia menggelar pengumpulan dan penilaian dari seluruh peserta.
Pengumuman terjadi di antara tahun 1978 dan 1979 M itu. " Menarik sekali, terjaring kurang lebih 171 karya Sirah Nabawiyah dalam bahasa Arab, Urdu, Inggris, dan Prancis," kata Asep.
Setelah melalui tahap seleksi, panitia penyelenggara mengumumkan 5 pemenang. Hanya dua di antara pemenangnya yang berasal dari Arab, yakni dari Arab Saudi, sedangkan tiga lainnya dari Pakistan dan India.
Nama Safiur Rahman Mubarakfuri kemudian keluar sebagai pemenang perlombaan penulisan Sirah Nabawiyah itu.
Ada banyak keistimewaan dari buku ini. Sekjen OKI kala itu, Syekh Ali Harakan, dalam pengantarnya mengatakan, buku tersebut merupakan karya Sirah Nabawiyah yang cukup ringkas dan lengkap dari awal sampai akhir.
Pernyataan tersebut itu ditegaskan kembali oleh Safiur Rahman Mubarakfuri. Buku itu sangat kuat dalam hal sumber ilmiah, penyusunan, dan yang paling menonjol adalah sistematika atau alur kronologis.
"Jadi, tidak melompat, debelum kelahiran sampai wafat memang runut. Memang, kalau ingin mengetahui secara lengkap, tidak akan dapat di buku ini. Tapi kalau ingin tahu sejarah Rasulullah dari lahir sampai wafat, akan mendapat alurnya di situ," ucap Asep.
Hal itu yang membuat alumnus Universitas Islam Madinah ini merekomendasikan buku tersebut sebagai bacaan pemula. Sebab, para pemula harus terlebih dahulu menguasai kronologi sejarah Rasulullah SAW.
"Buku ini yang sering saya rekomendasikan untuk dibaca oleh pemula. Kalau mulai belajar, bisa merujuk buku ini, karena kronologinya bagus dan setiap peristiwa tidak dibahas terlalu panjang dan pendek," tutur Asep.
Akan tetapi, Asep menekan agar pelajar tidak merasa telah menguasai Sirah Nabawiyah setelah membaca buku tersebut. Buku itu tidak rinci dalam menyajikan setiap potongan sejarah Rasulullah.
Hal itu dikarenakan penulis tidak bermaksud merincikan, hanya secara ringkasan dengan kronologis lengkap. Artinya, pengetahuan secara umum untuk mendalami Sirah Nabawiyah jauh lebih dalam lagi.
"Maka itu, pembaca pemula setelah membaca buku, dirincikan lagi masalah cara Rasulullah memindahkan pusat ekonomi dari Mekkah ke Madinah. Aspek politik, sosial, dan lain-lain. Banyak buku sirah yang membahas ini secara rinci," pungkasnya.
(jqf)