LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat sedang bermujahadah di dalam masjid ketika sekitar satu kompi aparat kepolisian menyisir pemukiman warga di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah. Personil yang datang beratribut lengkap dengan senjata dan menenteng tameng huru-hara.
Sejak Senin (7/2/2022) kepolisian memang sudah merencanakan operasi pengamanan di Desa Wadas. Pada pagi itu, ribuan personil Kepolisian sudah berkumpul dan melakukan apel di Polres Purworejo. Sore hari, aparat diketahui sudah mendirikan beberapa tenda di Lapangan Kaliboto yang lokasinya tak jauh dari pintu masuk ke Desa Wadas.
Operasi kepolisian hari itu dalam rangka pengamanan pengukuran lahan untuk proyek stategis nasional (PSN) Bendungan Bener. Warga Wadas sudah melakukan penolakan terhadap penambangan batu andesit dan PSN Bendungan Bener sejak 2016 lalu.
![Dari Masjid, Warga Wadas Melawan Kezaliman]()
Malam hari, masyarakat Wadas diselimuti kegelapan, entah mengapa aliran listrik yang biasa disuplai PLN padam. Ada indikasi kesengajaan dalam mematikan listrik dan membuat sinyal ponsel hilang di Desa Wadas, karena hanya terjadi di satu lokasi tidak di Desa sekitar yang lain.
Baca Juga: Pemkot Semarang Intensifkan Penertiban Pelanggar ProkesSelasa pagi, aktivis yang mengadvokasi hak warga Wadas mendapat informasi bahwa polisi telah memabawa paksa salah satu pengurus organisasi Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa). Warga yang hendak shalat ke masjid pun ditangkap.
Wadas Melawan, akun media sosial aktivis yang mengadvokasi warga Wadas membeberkan kronologi detik-detik aparat kepolisian merangsek ke pemukiman penduduk. Matahari hendak menuju puncak angkasa saat ribuan personel kepolisian masuk ke Desa Wadas, ada yang menggunakan motor dan ada yang berjalan kaki.
Saat Dzuhur tiba, kerusuhan mulai pecah. Polisi menggrebek puluhan warga yang sedang bermujahadah di salah satu masjid di Desa Krajan. Polisi juga menangkap warga yang berlalu lalang di area masjid, pun dengan kaum ibu yang sedang membuat besek di posko-posko tak lewat dari penyisiran.
Baca Juga: Kombes Pol Arif Bastari Resmi Jabat Kapolresta YogyakartaDalam video singkat yang diunggah oleh akun Twitter @Wadas_Melawan, terlihat puluhan aparat kepolisian berjaga di depan masjid. Aparat terlihat mengepung warga yang tengah berada di dalam masjid. Polisi yang datang ke sekitar masjid juga mencopot spanduk penolakan Bandungan Bener dan mengejar beberapa warga sampai ke hutan.
"Tak ada yang bisa dilakukan warga selain berdoa," dikutip Wadas Melawan, Kamis (10/2/2022).
Akun NU Channel juga mengunggah momen perlawanan warga Wadas dari dalam masjid Selasa kemarin. Dalam video yang diunggah NU Channel, terlihat puluhan warga wadas, termasuk kaum ibu mengumandangkan Mars Yalal Wathan, karya KH Wahab Hasbullah.
Kepolisian membantah adanya kekerasan di area masjid. Polda Jateng menampik adanya pengepungan dan pembubaran mujahadah warga dalam rangka menolak rencana pembangunan di tanah Wadas. "Perlu kami luruskan, tidak ada pengepungan masjid. (Justru) yang di dalam kami amankan," kata Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi saat jumpa pers, Rabu (9/2/2022).
Doa dan Perjuangan Rakyat Wadas Menolak TambangLaku spiritual dalam rangka menolak penambangan memang sering dilakukan warga Wadas. Saat mereka merasa terzalimi penguasa, berdoa kepada Allah SWT adalah ikhtiar kunci agar perlawanan mereka dimenangkan.
Dhoni Setiawan, Jurnalis
Projectmultatuli.org menulis laporan tentang doa-doa yang dipanjatkan warga Wadas dalam sebuah artikel berjudul Doa dan Perjuangan Rakyat Wadas Menolak Tambang, pada pertengahan tahun lalu. Betapa khusyuk mujahadah dan doa-doa yang dipanjatkan.
Malam semakin larut. Hawa dingin tidak membuat surut. Denyut nadi warga Kampung Wadas, Purworejo, Jawa Tengah menggeliat perlahan. Ratusan warga, baik dewasa maupun anak-anak, berduyun-duyun berjalan menuju musala yang mereka bangun secara mandiri. Suasana berubah riuh rendah. Malam ini mereka menggelar doa mujahadah, atau doa untuk mengiringi perjuangan.
Baca Juga: Polri Akan Tindak Tegas Pelanggar dan Penyimpangan KarantinaUntuk kesekian kali mereka memanjatkan doa kepada sang Pencipta, meneguhkan batin dalam berjuang mempertahankan tanah leluhur. Warga Wadas yakin perjuangan mereka selalu diridhoi oleh Allah. Memperjuangkan alam, lingkungan, dan keberlanjutan hidup sama halnya dengan beribadah kepada Sang Khalik.
Bukan tanpa alasan, saat ini mereka was-was atas tindakan pemerintah yang menjadikan tanah kelahiran mereka sebagai lokasi penambangan batu andesit. Quarry di Desa Wadas akan menjadi sumber material batu proyek Bendungan Bener dengan ketinggian 169 meter, tertinggi di Indonesia dan nomor dua di Asia. Warga khawatir pengerukan tanah akan menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian, sumber pangan, mata air, dan nilai tanah. Selain itu, Desa Wadas menjadi kawasan rawan bencana tanah longsor.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Desa Wadas, Insin Sutrisno (75) pada tahun 2013 ketenangan warga mulai terusik dengan adanya kegiatan pengeboran di beberapa titik di desanya. Tidak ada satupun warga yang mengetahui tujuan dari aktivitas pekerja.
“Setiap ditanya, mereka menjawab hanya pekerja lapangan, tidak tahu untuk apa. Kami merasa dibohongi oleh pemangku kebijakan setempat. Sama sekali tidak ada kepedulian dan tanggung jawab mewariskan alam kepada anak cucu selanjutnya,” tutur pensiunan guru Sekolah Dasar Negeri yang saat ini bertani.
Yatimah (50) menyampaikan keprihatinan yang sama. Menurut pimpinan Wadon Wadas ini, bukan pembangunan bendungan yang warga tolak, melainkan penambangan material batu andesit di area lahan pertanian mereka. Tanah Wadas merupakan lahan yang subur ditanami berbagai tumbuhan seperti kemukus, kencur, kacang, karet, kopi, vanili, dan durian.
Baca Juga: Kemenhub Tegaskan Indonesia Mampu Kelola Langit NatunaSuroso (45) dan 14 anggota keluarganya menempati tiga rumah yang saling berdampingan. Ia memperoleh informasi rumah mereka masuk dalam kawasan area penambangan sehingga menjadikan keluarganya sebagai warga yang terdampak langsung oleh proyek tersebut.
“Asli resah, ya mau pindah ke mana lagi. Ini tanah milik nenek moyang kami. Kami tidak rela,” tutur Suroso dengan tegas.
Mbah Marsono (62) mengaku bingung dengan kondisi nantinya. Kebanyakan dari mereka bukan usia produktif sehingga beralih pekerjaan lain pasti menyulitkan. Mereka sudah terbiasa menjadi petani. Para petani berharap tanah mereka tetap bisa jadi tumpuan hidup sehari-hari dan kelak menjadi warisan untuk anak cucu mereka.
Dalam doanya, warga yang bersatu dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa) sekali lagi mengetuk pintu langit ketika pintu penguasa negeri ini tidak bisa menjamin keberlangsungan alam mereka. Dengan bershalawat mereka sejenak menimba energi perjuangan. Mereka paham perjuangan menyelamatkan alam desa tidak mudah.
“Saya tidak akan pernah menjual apapun yang saya miliki sampai kapanpun kepada siapapun,” tutur Insin Sutrisno tegas.
Baca Juga: Jokowi: Kesiapan Kita Jauh Lebih Baik Hadapi Lonjakan Kasus(zhd)