LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, meminta umat Islam menghindari dua kubu ekstrem dalam memaknai kemuliaan bulan Rajab. Umat Islam harus berdiri di tengah dan menghindari caci maki terhadap sesama muslim.
Dia menyebut ada kelompok yang membawa dalil-dalil lemah bahkan palsu terkait ibadah tertentu pada bulan Rajab. Ada pula yang membid'ahkan jenis ibadah tertentu pada bulan, seperti puasa sunnah, dengan alasan tidak ada dalil.
Satu hal yang pasti, Rajab merupakan salah satu bulan dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta'ala. Dimuliakan artinya ada keistimewaan di sana. Namun, memang tidak ada amalan khusus pada bulan ini. Tapi, semua amalan yang dilakukan di luar Rajab bisa dilakukan pada bulan ini.
"Silakan berpuasa di Bulan Rajab. Memang ada riwayat-riwayat yang tidak benar terkait dengan Rajab, tapi secara umum puasa di bulan rajab dianjurkan, khususnya untuk menyelesaikan hutang-hutang puasa, agar ramadhan nanti bisa lega tanpa hutang," kata Buya Yahya melalui kanal
Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (10/2/2022).
Begitu pula ketika mendapati riwayat yang menyebut Rajab merupakan bulan istighfar. Maknanya benar, artinya setiap hari umat Islam diperintahkan untuk beristighfar. Hanya saja, kita harus hati-hati jika ingin menisbatkan riwayat tersebut kepada baginda nabi.
Hal tersebut dikarenakan perkara dalil harus melewati para ulama hadits terlebih dahulu. Jika mereka mengatakan suatu riwayat shahih, maka boleh dinisbatkan kepada nabi. Tapi jika lemah, maka harus penuh kewaspadaan untuk menisbatkan kepada Rasulullah.
"Yang jelas, kita ingin keluar dari dua kutub ekstrem, yang satu mengatakan puasa rajab adalah bid'ah, ini adalah satu keanehan sama sekali, atau satu sisi mendatangkan dalil-dalil palsu berkenaan dengan Rajab," ucap Buya Yahya.
Menurut beliau, menganggap Rajab sebagai bulan mulia tidaklah masalah, karena Allah mengatakan demikian. Berpuasa pada bulan ini pun tidak masalah, sebab puasa sunnah bisa dilakukan kapan saja.
"Tidak perlu dipermasalahkan tapi jangan mencaci juga kalau ada ulama mengatakan ini (hadits kemuliaan puasa Rajab), karena memang ada riwayat, cuma masalah mentashih ini kan tugas para ulama hadits lagi. Kita berada di tengah saja," tutur Buya Yahya.
Terkait riwayat lemah mengenai kemuliaan Rajab, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk meneladani pendapat Ibnu Hajar Atsqalani. Mengamalkan amalan dari riwayat lemah termasuk fadhail amal (keutamaan berbuat baik) saja. Sebab kemungkinan masih ada kebenaran dalam hal periwayatan, hanya saja statusnya lemah.
Namun, Ibnu Hajar Atsqalani menegaskan, amalan itu tidak boleh dinisbatkan kepada nabi. Artinya, untuk lebih waspada saja, seperti doa-doa sebelum makan atau pun wudhu. Maknanya baik karena berdoa. Berdoa itu dianjurkan, hanya tidak boleh menisbatkan kepada nabi.
"Artinya, kita tidak perlu main hujat-hujatan. Kita ambil maknanya saja, tanpa kita harus nisbatkan kepada baginda nabi, sehingga para muhaddits mengatakan maknanya benar, tapi nash tidak bisa dinisbatkan ke nabi karena riwayat lemah. Sama halnya doa sebelum makan, dan lain sebagainya, maknanya benar, tapi harus waspada jika menisbatkan ke nabi," tutur Buya Yahya.
(jqf)