LANGIT7.ID, Ankara - Menteri Lingkungan dan Urbanisasi Turki Murat Kutum dalam pertemuan para menteri lingkungan negara G20 di Italia mengatakan bahwa negara-negara besar anggota G7 memiliki kontribusi terbesar dalam pencemaran lingkungan. Maka pihaknya mendesak negara anggota G7 untuk mengurangi jumlah emisi dan jejak karbonnya.
"Kami menyaksikan banyak negara anggota G7 mencemari Bumi. Oleh karena itu, kami membahas perlunya mengambil langkah-langkah mendesak untuk mengurangi jumlah emisi dan gas karbon," jelas Murat Kurum dilansir dari Anadolu Agency, Minggu (25/7/2021).
Menurut Kurum, banjir yang terjadi di seluruh dunia merupakan dampak negatif dari perubahan iklim dan mengancam keselamatan jiwa, harta benda, dan infrastruktur kota di seluruh dunia.
“Sekarang bahkan kita menghadapi migrasi besar-besaran karena perubahan iklim,” tambah Kurum.
Kurum mengatakan dia juga mengadakan pertemuan yang sangat produktif dengan Utusan Khusus Presiden AS untuk Iklim John Kerry.
“Kami membahas akses ke pendanaan iklim dan ketidakmerataan upaya di berbagai negara," terang Kurum.
Dia juga menegaskan komitmen Turki terhadap energi terbarukan. Kurum menyatakan bahwa Turki, yang menempati peringkat ke-12 di dunia dan ke-5 di Eropa, memenuhi 52 persen daya dari energi terbarukan.
“Kami bekerja untuk menghasilkan 10 gigawatt angin dan tenaga surya setiap tahun dalam 10 tahun ke depan. Kami akan terus meningkatkan kapasitas energi terbarukan kami,” kata Kurum.
Kurum juga menyebut Turki telah meningkatkan jumlah kawasan lindung menjadi 11,5 persen.
Selain itu, Turki berupaya mencapai target rata-rata yang disepakati Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) sebesar 17%, dengan menciptakan taman nasional dan koridor ekologi di empat jalur yang akan menghubungkan utara dan selatan, dan timur dan barat Turki.
"Kami melakukan lebih banyak proyek daripada banyak negara. Kami akan mempercepat proses ini setelah akses ke pendanaan iklim," pungkas Kurum.
Sumber: Anadolu Agency
(jqf)