LANGIT7.ID, Jakarta - Fenomena sandal tertukar atau pun sandal hilang saat shalat berjamaah di masjid kerap terjadi. Fenomena ini pun sering menjadi bahan guyonan di tengah masyarakat.
Biasanya, jika seseorang kehilangan sandal di masjid, ia memutuskan meng-
ghosob sandal orang lain daripada pulang dalam keadaan tak beralas. Lalu, apakah itu dibolehkan dalam Islam?
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan hukum mengambil hak orang lain, meski berada dalam posisi sebagai korban. Jawaban tersebut ia sampaikan dalam video yang diunggah di kanal
YouTube Al-Bahjah TV.
Buya Yahya awalnya mendapat pertanyaan dari salah seorang jamaah pengajian terkait kasus tersebut. Ia mengaku pernah bimbang saat mengetahui sandal yang dikenakannya untuk ke masjid tertukar dengan sandal orang lain.
"Di masjid, sandal saya tertukar dengan seseorang, apakah boleh saya memakai sandal orang itu?" ucap sang penanya.
Ulama asal Cirebon itu menjelaskan, mengambil sesuatu yang bukan milik kita adalah haram. Ia meminta agar sang penanya tidak menyepelekan masalah tersebut. Ia menegaskan,
ghosob adalah haram.
"Tidak boleh, itu bukan sandal Anda,
ghosob itu haram. Jangan main-main, tolong jangan biasakan mengambil sandal milik seseorang," kata Buya Yahya.
Menurut dia, para perampok besar lahir dari orang yang membiasakan diri mengambil hal-hal kecil. Itu tak lepas dari sikap manusia yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Jika terbiasa dengan hal kecil, ia akan mencoba hal besar.
"Perampok gede itu bermula dari membiasakan mengambil dari hal-hal yang kecil," tutur Buya Yahya.
Nasihat serupa disampaikannya kepada para penuntut ilmu, baik siswa di sekolah umum maupun para santri di pondok pesantren. Ia mengingatkan, para santri tidak boleh menggoreskan tinta dengan pulpen orang lain tanpa izin. Demikian pula tidak boleh memakai pulpen yang tergeletak tanpa pemilik yang jelas.
"Bagi anda yang seorang santri, jangan berani menorehkan/menuliskan ilmu dengan pulpen orang lain yang tanpa izin," ucapnya.
Dia menjelaskan,
ghosob itu termasuk
kabair (dosa besar) karena itu berlatih berbuat jahat secara halus. Dia lalu mengingatkan, agar setiap umat Islam tidak menganggap enteng hal-hal kecil seperti
ghosob. "Sekali lagi, jangan sepelekan
ghosob, dosa, nanti kebiasaan," ucapnya.
(jqf)