LANGIT7.ID - Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar secara daring di rumah dengan mengandalkan teknologi menjadi keharusan pada masa pandemi ini. Tidak bisa dipungkiri, anak akan merasa bosan belajar secara daring sebab tidak bisa belajar di sekolah dan bersosialisasi dengan teman sebaya.
Belajar daring juga memicu masalah baru, karena anak cenderung bosan ketika harus belajar di rumah setiap hari, jenuh terlalu banyak
video conference, kesepian dan harus menghadapi kondisi yang tidak dinamis. Hal ini membuat para orang tua harus memutar otak mencari cara agar anak tidak bosan ketika harus belajar dari rumah.
Muncul kecemasan bahwa nantinya anak merasa bosan dan tidak dapat berkonsentrasi selama belajar di rumah, mengakibatkan proses belajar tidak efektif. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, LANGIT7.ID telah merangkum tips menghadapi anak yang bosan belajar daring.
11 tips di bawah ini berdasarkan pemaparan Ketua Yayasan Anak Teladan, Abu Salma Muhammad, melalui channel Youtube Rumaysho TV yang disiarkan pada Senin malam (26/7/2021). Berikut tipsnya:
1. Kondisikan tempat belajarPada masa pandemi ini, sekolah tidak berpindah, tapi pendidikan ke kembali ke pusatnya yaitu rumah. Terkhusus pendidikan untuk tumbuh kembang anak.
Abu Salma menjelaskan, tempat belajar ini penting dan bergantung dengan usia dan kondisi anak. Secara umum, orang tua perlu menyediakan kursi dan meja belajar yang nyaman untuk anak, tapi jangan terlalu nyaman karena bisa membuat mereka tertidur.
Tempat belajar juga tidak boleh banyak tidak banyak distraksi (bising, lalu lalang), harus didukung dengan pencahayaan yang baik, temperatur yang sesuai, dan tata letak yang tepat. Sesekali dalam beberapa bulan perlu untuk melakukan tata letak ruang.
2. Kenali gaya belajar anakSebenarnya, Allah SWT sudah mengaruniakan instrumen belajar pada anak manusia yang sama, namun tiap anak unik, ada yang dominan secara auditori, ada yang visual, ada yang kinestetik, dan seterusnya. Orang tua harus mengenali anak memiliki gaya belajar yang mana. Dengan mengenal gaya belajar anak, maka stimulasi belajar anak akan lebih cepat, efektif dan fokus.
3. Terapkan nizham (rules) dan ihtimam (relationship)
Aturan tanpa perhatian akan mengantarkan pada sifat suka memberontak. Demikian juga perhatian tidak diikuti dengan aturan, akan mengantarkan pada kekacauan. Orang tua harus mengkombinasi dua hal tersebut, yakni aturan dan perhatian.
Kalau orang tua hanya mengandalkan aturan, tetapi tidak memberikan perhatian kepada anak, ia termasuk orang tua yang tiran atau otoriter. Orang tua ingin menang sendiri, anak harus nurut. Akhirnya anak anak tidak nyaman ketika bersama orang tuanya ketika belajar.
Demikian pula orang tua jika hanya memberikan perhatian, permisif, terlalu memanjakan. Biasanya anak akan kacau. Ketika dua hal ini dikombinasikan, maka akan menghasilkan respek dan tanggung jawab.
4. Komitmen terhadap aturan, tapi tidak terlalu kakuKomitmen itu penting dalam pengasuhan. Dalam berkomitmen mengandung sikap tegas (firm). Tegas tidak identik dengan keras. Terlalu kaku sama dengan keras. Sikap keras tidak otomatis tegas. Lemah lembut tidak berarti tegas. Kuncinya tegas ditambah lembah lembut.
Betapa banyak orang tua yang keras terhadap anak, tapi tidak tegas. Saat orang tua memarahi anak, tapi justeru anaknya balik mengomel. Akhirnya orang tua bukan mengalah, tapi kalah. Kemauan anaknya dipenuhi. Itu contoh tidak punya komitmen dalam mengasuh.
5. Fokus pada proses bukan hasilHargai usaha dan upaya yang telah dilakukan anak dan bukan sekedar melihat pada hasil. Ketika anak anak sudah berusaha meski belum maksimal, maka jangan disalahkan, divonis, dilabeli, atau dikritik. Namun hargai upayanya, diakui prosesnya, dihormati pribadinya, lalu motivasi untuk lebih baik lagi.
6. Bersamai, dekati, dan monitor anakJika anak kita masih usia dini, maka bersamai dan sertai dalam proses pembelajarannya. Sebab mereka masih belum bisa mandiri. Jika anak kita sudah di atas 7 tahun (
mumayyiz), maka beri kepercayaan pada mereka, dorong untuk melakukan
‘active learning’ sembari tetap memonitor aktivitas mereka.
7. Beri waktu untuk istirahatSemakin muda usia anak, semakin sedikit waktu yang dapat mereka gunakan dan pelajari, sehingga sering kali istirahat penting untuk produktivitas. Jadi biarkan mereka istirahat sebentar, intinya biarkan mereka untuk mengambil waktu untuk bisa istirahat.
8. Beri dukungan dengan menyediakan hal yang mereka sukaiDukungan itu bisa dalam bentuk menyediakan
snack di sesi istirahat atau minuman yang mereka senangi. Bisa juga dibuat permainan, kuis, hingga teka teki. Dengan begitu, anak akan terhindar dari rasa bosan.
9. Didik mereka agar beradab dalam belajarMeskipun tidak tatap muka, tetap harus diajarkan adab-adab di dalam belajar. Misalnya mendorong mereka agar mandi dan menggunakan pakaian yang layak sebelum belajar. Menyalakan kamera saat proses belajar. Tidak makan atau sambil ngemil saat belajar. Tidak mengikuti pelajaran daring sambil rebahan.
10. Buat rutinitas berdasar kesepakatanMembuat rutinitas untuk anak yang lebih baik adalah dengan menyertakan mereka sehingga bisa bersepakat. Dengan bersepakat anak akan belajar bertanggung jawab dan berkonsekuensi. Selain itu anak juga akan belajar disiplin dan keteraturan.
11. Jangan lupa refreshing Refreshing sama dengan mengisi ulang kekuatan anak. Refreshing bisa dengan cara berwisata, jalan-jalan, olahraga bersama, makan bersama dan melakukan kegiatan yang disenangi.
(jqf)