LANGIT7.ID, Jakarta - Sains dan teknologi mengalami perkembangan sangat pesat. Dalam setiap waktu, para ahli dan ilmuwan terus bereksperimen untuk memecahkan teka-teki sains dan pengembangan teknologi.
Sains dan teknologi pun menjadi tolak ukur era modern saat ini. Keduanya seolah menjadi simbol kemajuan pada abad ini. Ini sebenarnya sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Islam merupakan agama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Islam selalu mendukung umat untuk melakukan penelitian dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi.
Bagi Islam, sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat kauniyah yang perlu Digali dan dicari keberadaannya. Allah Ta’ala pun menciptakan manusia di muka sebagai khalifah yang bisa mengolah dan memanfaatkan sebaik mungkin.
Pendiri Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim, mengatakan, para ulama terdahulu sudah merumuskan cara umat Islam berinteraksi dengan sunnatullah (ayat kauniyah) sebaik mungkin.
Baca Juga: Budaya Ilmu Tinggi, Kunci Peradaban Islam Bisa Kuasai Dunia
“Tidak boleh kita memahami teks-teks Al-Qur’an dan hadits itu secara serampangan. Tidak dikaitkan dengan realitas sunnatullah,” kata Fahmi Salim dalam kajian daring yang disiarkan IRW Media, dikutip Senin (7/3/2022).
Dia menjelaskan, sunnatullah bukan hanya hukum-hukum Allah yang tertulis dalam syariah. Namun, sunnatullah juga ada di alam semesta. Kitab tertulis yakni Al-Qur’an menjadi panduan dalam membaca dan mengobservasi untuk sampai kepada premis konklusi dari hukum-hukum sunnatullah yang ada bertebaran di muka bumi.
“Ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang sunnatullah, ayat-ayat kauniyah terutama. Nah, hukum syariat itu tidak bertentangan dengan sunnatullah di alam semesta,” ucapnya.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS Fussilat: 53)
Fahmi Salim mengatakan, ayat-ayat tentang kekuasaan Allah itu diperlihatkan dalam alam semesta dan tubuh-tubuh manusia. Jadi ada dua pendekatan. Pendekatan ayat-ayat kauniyah di alam semesta dan ayat yang tertulis dalam Al-Quran yang menjadi panduan sebagai titik tolak untuk berselancar.
“Sayangnya, meski umat Islam punya pedoman sunnatullah di muka bumi tapi tidak digunakan untuk observasi alam semesta. Padahal ulama-ulama terdahulu pada masa keemasan Islam jadi pelopor ilmu pengetahuan modern. Tidak peletakan dasar sains dan teknologi tanpa kontribusi umat Islam,” ucap Fahmi Salim.
Baca Juga: Masalah Umat Islam Kini Tak Lagi Mengutamakan Tradisi Keilmuan
Ulama-ulama era keemasan Islam menjadi peletak batu dasar era modern, sains hingga teknologi. Hal itu menjadi salah satu contoh agama Islam tidak pernah bertentangan dengan sains dan teknologi. Bahkan, penemuan-penemuan penting banyak terinspirasi dari Al-Qur’an.
“Kalau kita beri penanggalan lahirnya sains modern itu mulai abad ke-16, abad ke-17, dan abad ke-18 disebut sebagai abad pencerahan di Eropa, itu semua pondasinya sudah diletakkan oleh ilmu muslim yang ada di Baghdad, di Damaskus, di Istanbul, Cordoba, dan Andalusia,” kata Fahmi Salim.
(jqf)