LANGIT7.ID, Jakarta - Habib Hasan bin Ismail Al-Uhdor mengatakan,
imamah dan
rida merupakan
sunnah fi’liyah Rasulullah SAW. Imamah atau sorban sejatinya adalah budaya orang Arab.
Dalam bahasa Arab, sorban disebut dengan imamah. Nabi SAW menggunakan imamah di Kepala. Dalam tradisi umat Islam, sorban seringkali dipakai sebagai selendang. Padahal, selain memakai sorban, Nabi SAW juga mengenakan selendang yang disebut rida.
Nabi SAW bersabda seperti dikutip oleh Imam Jalaluddin al-Suyuti dalam Lubab al-Hadits, “Sorban-sorban adalah mahkota-mahkota Arab, maka apabila mereka memakainya, mereka memakai kemuliaan mereka.”
Baca juga: Mengenal Bekam, Terapi Sunnah Nabi dalam Pandangan IlmiahDalam konteks mengikuti sunnah Nabi SAW, memakai sorban termasuk dalam kategori sunnah fi’liyah (sunnah perbuatan Nabi SAW). Itu artinya, memakai sorban mengalami transformasi dari budaya manusia menjadi ajaran agama. Orang yang melaksanakan perintah agama pasti akan mendapat balasan berupa pahala.
“Semua sunnah Nabi SAW, setiap muslim diimbau untuk melakukannya Tanpa melihat itu awam atau pun ulama. Jika itu sunnah, maka menjadi sunnah setiap muslim,” kata Habib Hasan dalam kanal
Ahbaabul Musthofa Channel dikutip Selasa (8/3/2022).
Habib Hasan menjelaskan, cara Nabi SAW memakai imamah berbeda dengan orang musyrik Arab. Beliau mengenakan imamah yang ditaruh di kepala di atas kopiah. Orang musyrik memakai imamah, tapi tidak memakai kopiah, sehingga kepala bagian atas mereka terlihat. Ini berbeda dengan Nabi SAW yang memakai kopiah.
Imamah merupakan sunnah yang sangat bagus untuk diikuti. Namun, dalam perkembangannya, ada perbedaan imamah yang dikenakan para ulama dan orang awam.
Baca juga: 4 Amalan Sunnah Sehari-hari, Tak Hanya saat Maulid Nabi“Imamah itu sunnah, tapi kita perlu lihat keadaan. Kita perlu lihat kebiasaan. Di Hadramaut, Yaman, hampir rata-rata orang memakai Imamah. Tapi ada perbedaan imamah para ulama dan orang awam,” ucap Habib Hasan.
Imamah ulama biasanya agak besar. Imamah orang awam agak kecil sebagai wujud mengikuti sunnah saja. Itu tidak ada masalah. Maka, setiap umat Islam boleh mengenakan imamah, hanya saja bagi orang awam dianjurkan tidak menyerupai imamah ulama.
“Maka Anda, boleh pakai imamah walaupun Anda seorang awam, tapi jangan besar-besar. Sedikit saja, untuk mengamalkan sunnah, dan Anda boleh memakai rida, tapi jangan mencolok warnanya,” kata Habib Hasan.
Dia menjelaskan, jubah, rida, dan imamah yang memiliki warna mencolok merupakan simbol para ulama. Maka itu perlu dikhususkan bagi para ulama saja. Nanti jika orang awam mengenakan imamah dengan warna mencolok bisa saja disangka ulama.
Baca juga: Pengertian Sunnah, Tidak Semua Ibadah Dianjurkan Rasulullah“Maka, pakailah pakaian sunnah, tapi yang sederhana. Sederhana itu tidak terlalu besar, warnanya tidak terlalu mencolok, dan dipakai waktu anda mau shalat. Ketika beraktivitas sehari-hari tidak usah pakai imamah, sebab memakai imamah itu simbol ulama di setiap keadaan mereka. Itu simbol ulama,” ucap Habib Hasan.
(jqf)