LANGIT7.ID, Jakarta - Shalawat merupakan lafazh jama’ dari kata shalat yang berarti doa, rahmat, berkah, dan inayah. Hal itu ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam Surah Al-Ahzab ayat 56.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada nabi dan sapa dengan hormat.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Sayyid Murtadha al-Zabidi dalam Kitab
Ithaf al-Sadat al-Muttaqin Syarah Kitab Ihya, menjelaskan salah satu keberkahan shalawat yang akan meliputi umat Nabi Muhammad SAW sampai hari kiamat.
Baca juga: Ayat Perintah Shalawat pada Nabi Turun di Bulan SyabanNabi Muhammad SAW diutus setelah Nabi Isa AS. Masyhur Jika Nabi Isa AS dipertuhankan oleh orang Nasrani, karena terlalu berlebihan dalam memuji. Sementara, orang Yahudi melecehkan Nabi Isa karena dianggap sebagai anak zina. Orang Yahudi bahkan ingin membunuh Nabi Isa AS.
Saat masih hidup, Rasulullah SAW pernah berpesan agar umat tidak berlebihan dalam memuji. Pesan tersebut termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam at-Tirmidzi.
“Jangan berlebihan dalam memuji saya, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘Abdullah wa Rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).”
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah juga berpesan agar umat Islam tidak melecehkan beliau sebagaimana orang Yahudi melecehkan Nabi Isa AS.
Sayyid al-Zabidi mengatakan, shalawat akan menjaga umat Islam sampai hari kiamat dan akan mendudukan Nabi Muhammad. Bukti cinta kepada Nabi Muhammad adalah shalawat.
Penekanan lain, dalam shalawat, posisi Tuhan dan Muhammad sangat jelas. Redaksi
allahumma merupakan penegasan bahwa Allah adalah pemberi. Sedangkan, kata Muhammad dalam lafazh shalawat menjadi penegas bahwa Rasulullah tetaplah penerima.
Baca juga: Berkah Cinta Rasul, Keluarga dan Rumah Pak Wagiman Tak Tersentuh Erupsi SemeruDengan mengucapkan
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad, seseorang sudah mengikrarkan bahwa Allah adalah pemberi dan Muhammad adalah penerima. Artinya, "Saya mohon ya Allah, Engkau adalah pemberi, berilah shalawat-Mu kepada Muhammad."
Itu menjadi penegasan, umat Nabi Muhammad SAW tidak mungkin menuhankan Rasulullah. Itu menjadi salah satu berkah shalawat, yang menjadi bukti takzim sekaligus tauhid.
Sayyid al-Zabidi mengatakan, berkah shalawat yakni takzim kepada Rasulullah bahwa beliau berhak mendapat shalawat dari Allah. Sementara bukti tauhid, betapapun hebatnya, beliau tidak akan pernah sampai nenjadi tuhan.
Hal tersebut menjaga akidah umat Islam dari menuhankan Muhammad akibat memuji terlalu berlebihan seperti Nasrani kepada Isa. Dengan sighat (redaksi) shalawat seperti itu menjadi jelas siapa Tuhan dan siapa Muhammad.
Itu menyebabkan agama Islam aman, tidak akan tereduksi seperti orang Nasrani dan juga tidak akan mengalami kerusakan seperti orang Yahudi.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Rasulullah Melalui Syama'il MuhammadiyahMaka itu, para ulama mengatakan, “tinggalkan olehmu apa-apa yang disangkakan oleh orang Nasrani. Tak mengapa kamu memuji nabi berlebihan, tapi tinggalkan tradisi yang dilakukan oleh Nasrani, yang ketika memuji nabinya seakan-akan itu tuhan.
“Islam tidak akan mengalami itu, karena berkahnya selawat kepada Rasulullah SAW. Jadi, selawat bukan sekadar bukti cinta kepada Rasulullah, tapi selawat juga penjaga tauhid,” kata KH Ahmad Bahauddin Nursalim saat menjelaskan kandungan kitab Sayyid al-Zabidi terkait berkah shalawat, dikutip kanal
Santri Gayeng, Rabu (9/3/2022).
(jqf)