LANGIT7.ID - , Jakarta - Hujan merupakan peristiwa dimana butir-butir air turun dari langkit ke permukaan bumi akibat dari kondensasi. Turunnya air dari langit menjadi berkah bagi seluruh umat di bumi.
Bagi sebagian masyarakat, khususnya di wilayah pertanian atau perkebunan, hujan sangat dinanti untuk membantu proses pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, musim panas berkepanjangan atau kemarau menjadi fenomena alam yang ingin dihindari. Karena bagi mereka, musim kemaru bisa menyebabkan gagal panen alias kerugian.
Baca juga: Jaket Tenun hingga Helm Proyek, Ini OOTD Rara Si Pawang Hujan MandalikaAlhasil, untuk menyiasati musim kemarau yang panjang, dengan maksud mendatangkan hujan, beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi unik meminta hujan. Melansir dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia (RI), Senin (21/3/2022), berikut beberapa diantaranya:
Cirebon - Tari Sintren
Tari Sintren atau Lais merupakan tarian yang beraroma magis, bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono. Ini merupakan tarian yang hanya disajikan saat masyarakat mengalami kemarau panjang.
Biasanya ritual ini diadakan selama 40 malam berturut-turut. Namun doa dan harapan tetap dipanjatkan pada Yang Maha Kuasa agar hujan cepat turun yang dilakukan oleh seorang pawang sintren.
Baca juga: Mengenali Proses Turunnya Hujan di IndonesiaPenari sintren adalah seorang perempuan yang harus benar-benar masih gadis suci (perawan). Sedangkan pemain lais yang perankan oleh pria, harus benar-benar bujang (masih perjaka). Tarian ini dilakukan oleh sang penari dalam keadaan tidak sadar atau kesurupan.
Bondowoso - Tradisi Ojung
Di setiap akhir musim kemarau yang panjang, Desa Tapen, Kecamatan Bondowoso, Jawa Timur, warga setempat berkumpul untuk menyaksikan ritual Ojung. Ritual ini dilakukan sebagai permohonan untuk memanggil hujan kepada Tuhan yang Maha Esa.
Dalam ritual ojung, dua orang pria berhadapan dengan bertelanjang dada sambil menggenggam erat sebatang rotan. Pertarungan ini akan dipimpin oleh seorang wasit.
Karo - Tari Gundala-Gundala
Tari ini dikenal juga dengan sebutan tari Gundala Karo, yang berasal dari Kabupaten Karo yang terletak di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara.
Tarian gundala-gundala disajikan saat warga Karo mengalami kemarau panjang, dan ritual ini dilakukan warga untuk memanggil hujan atau dalam bahasa batak di sebut Ndilo Wari Udan. Para penari Gundala menggunakan kostum dengan pakaian seperti jubah dan topeng yang terbuat dari kayu.
Bayan - Tarian Suling Dewa
Suling dewa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelum tarian berlangsung, masyarakat Bayan akan menentukan hari, waktu, dan tempat yang dinilai baik untuk melaksanakan ritual tersebut.
Selain itu, masyarakat Bayan juga menyiapkan sesaji berupa kembang, makanan dan kapur sirih. Kapur sirih ini menjadi komponen yang paling penting dan dipercaya dapat mendatangkan hujan.
Baca juga: Aksi Pawang Hujan, Pakai Es Batu dan Kayu Abu dalam RitualKeunikan lain yaitu suling yang digunakan, ada filosofis yang begitu mendasar dan mulia. Alat musik seruling ini menggambarkan wujud manusia, apabila seruling ini tidak diberikan hembusan nafas, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.
Tulungagung - Tradisi Cambuk Badan Tiban
Ritual ini merupakan tradisi warisan raja Kediri yang terus dilestarikan oleh warga desa Trajak, Boyolali, Tulungagung, Jawa Timur. Ketika kemarau panjang melanda dan warga mulai kesulitan untuk mendapatkan air, maka tradisi cambuk badan tiban yang dilakukan oleh pria dewasa inipun diselenggarakan.
Para pria dengan bertelanjang dada, satu lawan satu, saling cambuk tubuh mereka di tengah lapang. Makna di balik darah yang keluar akibat cambukan dipercaya bakal mendatangkan hujan. Selain di Tulungagung, tradisi yang sama juga bisa ditemui di Trenggalek yang dinamai Cambuk Badan Ojung.
Karangasem - Tradisi Gebug Ende
Ritual memanggil hujan di Bali ini dilakukan secara turun temurun sejak peperangan kerajaan Karangasem dengan kerajaan Seleparang di Lombok.
Kegiatan ini dilakukan oleh dua kelompok pria dewasa yang saling pukul dengan rotan dengan dilengkapi tameng sebagai pelindung. Sebagai penengah, pertarungan ini dipimpin oleh wasit yang disebut Saye.
Oleh warga Karangasem, darah yang ditimbulkan dari pertarungan gebug ende ini diyakini dapat mendatangkan hujan.
Baca juga: Tanpa Sesajen dan Dukun, Begini Cara Alihkan Hujan dalam IslamBanyumas - Tradisi Cowongan
Ritual memanggil hujan ini lumayan unik, karena hanya boleh ditarikan oleh 10 perempuan di Desa Plana, Kec. Somagede Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Para pelaku cowongan memaknai cowongan sebagai simbol permohonan dan bukti pengabdian mereka terhadap peninggalan budaya para leluhur. Mereka menjalani ritual cowongan dengan ikhlas, niat yang tulus dan tanpa paksaan karena cowongan merupakan hal yang keramat.
Cowongan memiliki arti blepotan pada wajah, dengan media boneka yang dirasuki bidadari yang dipercaya dapat memanggil hujan. Boneka cowongan hanya boleh dipegang oleh kaum lelaki. Cowongan hanya dilakukan pada musim kemarau yang sangat panjang. Biasanya ritual ini dilaksanakan mulai pada akhir massa kapat (hitungan dalam kalender Jawa) atau sekitar bulan September.
(est)