LANGIT7.ID - Muslimah asal Boyolali memutuskan untuk hijrah dari profesinya sebagai penyanyi dangdut. Ia mengaku mendapatkan kebahagiaan tersendiri dalam menjalani profesi barunya sebagai petani milenial.
Novi Listiana, muslimah yang sempat berprofesi sebagai penyanyi dangdut sejak 2014. Saat menjalani profesi sebagai biduan itu, ia mendapatkan tuduhan yang tidak mengenakkan dari lingkungan sekelilingnya.
Ia mengaku sudah lelah dengan kehidupannya yang dianggap negatif. Pandangan sebagian orang, biduan dangdut sering mengenakan pakaian yang seksi diikuti dengan dandanan yang menor. Selain itu, Novi juga mengaku sering dipandang sebelah mata.
“Banyak juga orang yang anggap saya memperoleh uang yang haram dari biduan. Padahal saya mencari uang halal ketika masih menjadi biduan, karena saya berbeda dengan penyanyi lainnya,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.
Namun sekarang Novi sudah memutuskan untuk hijrah sepenuhnya. Ia dulu yang belum mengenakan hijab saat menjadi biduan, kini ia lebih menutup auratnya dan mampu menunjukkan kepada orang di sekitar terhadap perubahannya ke arah yang lebih positif.
![Hijrah dari Biduan, Muslimah Ini Pilih jadi Petani]()
Novi kini bahagia menjadi Petani Happy. foto: instagram/ novilisty_
Awalnya, Novi malu menjalani profesi barunya sebagai petani. Hal ini disebabkan pandangan banyak orang yang menganggap petani adalah profesi orang desa yang identik dengan lumpur dan kotor.
“Profesi petani itu kurang keren, panas-panasan dan penghasilannya sedikit. Tapi saya bangga, karena selain petani pekerjaan yang mulia, ternyata bertani juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Motivasi dan edukasi yang didapatkan dari suaminya terkait bertani membuatnya terus mempelajari dan mendalami profesi sebagai petani. Bahkan, ia juga melakukan pengerjaan penyemprotan tanamannya sendiri, termasuk menggendong jerikennya.
“Saya bisa bertani akhirnya seperti kebanyakan profesi masyakarat lingkungan saya. Alhamdulillah pandangan orang sekarang lebih positif kepada saya sejak menjadi petani,” ujarnya.
Novi mengaku mendapat kebahagiaan dari profesi barunya ini. Ia mengatakan menjadi pribadi yang lebih disiplin ketika menjadi petani milenial.
“Saya mulai berangkat pukul 05:15 WIB pagi, ketika sudah sampai ladang itu pemandangannya indah sekali. Itu membuat saya senang. Selain itu, semua ini saya kerjakan sendiri, dan menikmati perkembangan tanaman saya di sini, karena melihat yang ijo-ijo seperti ini saya jadi semakin semangat,” jelasnya.
Novi merawat tanamannya dengan menggunakan metode organik dan kimia. Namun, ke depan ia berencana untuk menggunakan 100 persen metode organik. Menurutnya, dengan menggunakan metode kimia lebih berisiko meningkatkan kerusakan alam dan lingkungan.
![Hijrah dari Biduan, Muslimah Ini Pilih jadi Petani]()
Novi memamerkan hasil panen. foto: instagram/ novilisty_
“Untuk pemasaran di desa kami sudah ada pedagang. Jadi ketika panen kita tidak usah jauh-jauh ke pasar,” katanya.
Ketika momen panen raya, ia mendapatkan kebahagiaan yang tidak terukur. Terlebih, manajemen waktu dan pekerjaannya yang diaturnya sendiri sehingga menjadi motivasinya untuk semakin semangat menjalani aktivitasnya.
Baginya, menjadi petani tidak menghalanginya untuk membuat konten kreatif. Ia kerap memposting beberapa kegiatan bertaninya di media sosial.
“Saya posting di tiktok, Youtube, dan Instagram. Semua yang saya posting keseharian sebagai petani. Saya ingin mendorong untuk membagikan semangat petani. Saya juga sharing edukasi bertani, agar bisa berbagi manfaat,” ujarnya.
Ia mengaku mendapat banyak dukungan dan respon positif dari media sosial. Sekaligus mengajak kalangan milenial untuk tetap bisa meningkatkan kreativitas melalui konten yang bermanfaat di media sosial.
![Hijrah dari Biduan, Muslimah Ini Pilih jadi Petani]()
Novi saat masih menjadi biduan. foto: instagram/ novilisty_
“Saya itu tidak menyerah dan tetap semangat. Ayo bangun jati diri sendiri supaya bisa membanggakan keluarga. Petani muda juga harus memiliki semangat yang sama agar bisa terus mengalami kemajuan,” katanya.
Novi berharap bisa menjadi lebih baik lagi melalui pribadi barunya. Ia juga berencana akan terus memberikan konten positif di media sosialnya.
“Daripada kita menjadi beban orang tua, lebih baik kita berkarya menciptakan ide kreatif dalam pertanian. Agar pertanian semakin maju dan tidak hanya bisa protes kepada pemerintah terkait masalah impor. Kita harus buktikan hasil panen kita bisa lebih berkualitas dari luar negeri,” imbuhnya.
(sof)