LANGIT7.ID, Jakarta - Kepemimpinan yang baik merupakan suatu hal yang penting dalam membangun peradaban Islam. Pemimpin-pemimpin yang baik dan dapat memperjuangkan nilai-nilai Islam tentu dapat membawa perubahan negara ke arah lebih baik.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan dakwah tertinggi dalam Islam yakni melalui kekuasaan. Maka setiap muslim yang mampu harus berusaha mendapatkan kekuasaan dengan niat melakukan
dakwah dan ibadah.
Baca Juga: Emil: Standar Adil dalam Kepemimpinan adalah Syariat"Saya tidak pernah punya niat jadi gubernur atau walikota, saya arsitek tapi takdir dari Allah SWT berkata lain. Jadi sekarang saya menikmati peran menjadi seorang pemimpin," ujar Ridwan Kamil dalam Kultum Teraweh Masjid Universitas Gadjah Mada dikutip dari Youtube Masjid Kampus UGM, Rabu (6/4/2022).
Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menjelaskan tiga dasar kepemimpinan Islam yang dia pegang teguh. Pertama, meniatkan kepemimpinan sebagai ibadah. "Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun, tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku," (QS Adz-Dzariat: 56).
"Oleh karena itu jadi mahasiswa niatkan ibadah, jadi dosen niatkan ibadah, jadi takmir masjid niatkan ibadah, jadi apapun niatkan ibadah. Mau dibuli mau dipuji tidak jadi tujuan. Karena jadi
pemimpin itu pasti jadi sorotan," lanjutnya.
Kedua, meyakini bahwa kepemimpinan itu atas rida dari Allah. "Allah yang berkehendak saya jadi pemimpin namun Allah juga berkehendak mencabut kepemimpinan saya suatu saat nanti," ujar Kang Emil.
Baca Juga: Pertama dalam Sejarah, Shalat Tarawih Dihelat di Times SquareSelanjutnya
Kang Emil menjelaskan dasar kepemimpinan Islam ketiga adalah bermanfaat bagi masyarakat yang dipimpinnya. "Khairunnas anfauhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain," (HR Ahmad).
Kang Emil menekankan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang di sekitar walaupun bukan seorang pemimpin. "Buat apa jadi pemimpin kalau hanya sekadar gelar saja tanpa ada manfaat. Memberi manfaat itu bisa dengan waktu, ilmu, harta ataupun kekuasaan," ujarnya.
Lebih lanjut gubernur millenial itu memberikan pesan kepada mahasiswa untuk belajar dengan baik dan tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Hal itu merupakan bagian dari agent of change di masyarakat.
"Untuk mahasiswa berilah kemanfaatan dengan waktu memperjuangkan gelisah-gelisah rakyat dengan situasi saat ini. Terdepan menarasikan kebenaran dan pembelaan, itu tugas mahasiswa," tuturnya.
Baca Juga:
Festival Jazz Hingga Bazar UMKM Semarakkan Ramadhan di Jakarta
KH Cholis Nafis: Ramadhan adalah Madrosatun Insaniyyun(asf)