LANGIT7.ID - , Jakarta - Menempuh pendidikan di negara barat membuat Direktur Institute of Democracy and Education (IDE), Gugun Gumilar mempelajari banyak hal terkait sistem toleransi yang mereka terapkan.
Menurut Gugun sapaaan akrabnya, toleransi di negara barat sangatlah tinggi.
"Kehidupan minoritas di barat itu, pertama saling menghargai. Jadi nilai toleransi sangat tinggi di sini. Meskipun kita umat minoritas, tetap kita diakui oleh negara. Seperti difasilitasi masjid, beribadah tidak dibatasi dan lainnya," ujar Gugun saat dihubungi Langit7, Sabtu (9/4/2022).
Baca juga: Tantangan Puasa di Kota Es China, Mesti Perkuat Iman Saat Musim PanasTingginya toleransi di negara barat, menurut Gugun, karena adanya pemisahan antara agama dan negara.
"Jadi agama ya agama, dan negara ya negara. Intinya terpisah," tutur pria yang sedang menjalankan S3 di Dublin City University, jurusan Philosophy of Religion, Irlandia, United Kingdom ini.
Saking bebasnya, kata Gugun semua hal bisa dilakukan meskipun berbeda mazhab, terpenting tidak mengganggu orang lain. Sederhananya, negara tidak mengatur agama tapi bagaimana negara dan agama itu bisa saling toleransi, menghormati dan lainnya.
"Di sini guru saya ada yang Nasrani, Yahudi dan lainnya. Tidak hanya itu, antar tetangga juga berbeda agamanya, ada yang atheis, Katolik, Budha dan seterusnya," ucap Gugun.
Namun, mereka memiliki prinsip saling menghargai dan menghormati. Lagipula, bila dicermati lebih lanjut, bagi Gugun perbedaan ini merupakan bentuk universal kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia, dengan saling membangun antar budaya, agama dan saling sepemahaman.
Untuk Gugun pribadi, berada di negeri barat seperti saat ini justru semakin meningkatkan imannya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Melafalkan Niat Saat Hendak Berpuasa?"Artinya Tuhan memberikan sebuah cara atau jalan bagi saya bagaimana untuk saling belajar satu sama lain. Bisa saling menghargai dan lainnya," ungkap alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.
"Ternyata ada loh di luar sana itu orang yang harus kita hormati dan kita banggakan, sebagaimana Allah SWT menciptakan berbagai suku bangsa, untuk saling mengenal satu sama lain. Itu kan yang tertuang dalam Al-Quran," lanjut dia.
Gugun mengatakan ada beberapa sistem toleransi barat yang mungkin perlu dipelajari oleh orang Indonesia.
"Toleransi barat yang perlu dipelajari orang Indonesia yakni tidak hanya berbicara tetapi juga dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Contoh, tambahnya gereja dengan masjid. Gereja di sini tidak memiliki lonceng, lalu pengeras suara untuk masjid juga sudah tidak ada. Tidak pakai toak atau speaker. Jadi agama itu urusan pribadi.
"Gereja maupun masjid tidak dibolehkan memiliki pengeras suara. Pengeras suaranya di dalam masjid atau gereja saja jangan sampai keluar," ungkapnya.
Baca juga: Ramadhan di Inggris, Shalat Tarawih Tanpa Jarak SosialSelanjutnya, ketika berbeda pendapat dengan agama yang lain, Anda benar-benar harus menghargai dan mengakui perbedaan ini.
"Jadi di barat itu mengeluarkan pendapat sangat bebas, tidak akan ada yang tersinggung. Sangat bebas, asalkan jangan memaksakan kehendak orang lain untuk sama dengan pemikiran kita, itu yang tidak boleh," katanya.
"Kita di sini kritis beragama akan tetapi tetap saling menghormati satu sama lain" pungkas Gugun.
(est)