LANGIT7.ID, Jakarta - Islam adalah agama yang menghormati akal budi dan mendorong manusia memaksimalkannya untuk membuat kemaslahatan sosial. Allah memberikan manusia kebebasan mengatur dirinya sendiri di bawah naungan Allah.
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu komunitas, lingkungan, masyakarat, negara, dan bangsa dari kenikmatan dan kesejahteraan yang dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara. Kondisi suatu kaum baik negatif maupun positif tergantung perbuatan manusia itu sendiri.
Surat Ar-Ra'd ayat 11:
ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Baca Juga: SE Menaker Soal THR 2022 Terbit, Pengusaha Diimbau Lakukan Dua Hal IniBuya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, ayat ini mewajibkan manusia memaksimalkan potensinya untuk menentukan garis hidupnya. Manusia diberi akal oleh Allah dan dia pandai sendiri mempertimbangkan dengan akalnya itu di antara yang buruk dengan yang baik.
Manusia, kata Buya Hamka, bukanlah semacam kapas yang diterbangkan angin ke mana-mana, atau laksana batu yang terlempar di tepi jalan. Manusia mempunyai akal, dan dia pun mempunyai tenaga untuk mencapai yang lebih baik, dalam batas-batas yang ditentukan oleh Allah.
“Kalau tidak demikian, niscaya tidaklah akan sampai manusia itu mendapat kehormatan menjadi Kahilfah Allah di muka bumi ini,” tulis buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar tentang Surat Ar-Ra'd ayat 11.
Namun demikian, daya manusia sangatlah terbatas. Manusia terikat oleh ruang yang sempit dan terkungkung oleh waktu yang pendek.
Baca Juga: Jemaah Haji Negara Asing Dapat Kuota TerbesarDi samping usaha yang manusia kerjakan menurut kesanggupan dan takdir berjalan, manusia harus menyadari bahwa ada lagi takdir-takdir di dalam alam ini, yang dijadikan Allah kadang-kadang bertemu, kadang-kadang bertentangan dengan apa yang kita kehendaki.
Buya Hamka melanjutkan, oleh sebab itu maka di dalam segala kegiatan hidup, hendaknya jangan berlepas diri dari Allah. Sehingga dalam kondisi sesulit apapun manusia tetap bisa bertahan berkat kekautan Allah.
“Di sinilah letaknya kekuatan itu, sehingga jiwa sekali-kali tidak merasa sepi,” kata Buya Hamka.
(zhd)