LANGIT7.ID, Jakarta - PP Muhammadiyah, setiap tahun, sudah jauh-jauh hari menetapkan 1 Ramadhan atau awal Ramadhan. Metode penetapan Ramadhan ala Muhammadiyah memang berbeda dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Kondisi tersebut bukan hal baru. Muhammadiyah dan NU pernah beberapa kali berbeda dalam menentukan awal puasa, seperti pada 1985, 1992, 1998, 2002, 2006, 2011, dan 2022.
Jika sejak awal Ramadhan sudah berbeda, kemungkinan besar akan beda pula Hari Raya Idul Fitri alias 1 Syawal. Muhammadiyah akan memulai puasa 1 hari lebih dulu dari NU, yang membuat lebaran juga demikian.
Namun alih-alih jadi perdebatan sengit, kondisi itu justru kerap melahirkan guyonan di tengah masyarakat. Muncul anekdot di tengah masyarakat yakni ‘Puasa ikut NU, Lebaran ikut Muhammadiyah’.
Lalu, bagaimana hukumnya dalam pandangan fikih?
Baca juga: Umat Islam akan Menjalani 2 Kali Ramadhan pada Tahun 2030Pakar fikih kontemporer, KH Ahmad Zahro, menjelaskan, puasa ikut NU dan Lebaran ikut Muhammadiyah bisa saja dilakukan. Dengan catatan, puasa sudah mencapai 29.
“Kalau jumlah puasa
Njenengan sudah ada 29, maka boleh. Tapi kalau tidak, jangan coba-coba, (karena akan) qadha satu. Bulan Islam itu kalau
enggak 30 (hari) berarti 29. Umumnya 29, tapi ada beberapa yang 30. Tidak ada 28
kayak Februari,” kata KH Zahro saat menyampaikan tausiyah Melalui akun
YouTube-nya, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Lebih Baik dari 1.000 Bulan, Berikut Penjelasan tentang Lailatul QadarNamun, dia menegaskan, puasa 29 hari dengan menggunakan metode ala anekdot tersebut tidak mungkin terjadi. Jumlah hari dalam kalender Hijriah rata-rata 29 hari. Hanya beberapa yang mencapai 30.
Jadi, Jika puasa ikut NU dan lebaran ikut Muhammadiyah puasa hanya 28 hari. Itu tentu menyalahi aturan syariah, karena tidak ada puasa Ramadhan berjumlah 28 hari. Mau tidak mau harus mengqadha 1 hari puasa.
“Jadi, boleh saja ikut NU puasa, ikut Muhammadiyah pas lebaran, asal puasa sudah cukup 29. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Kemarin memang puasa beda, Sabtu dan Ahad, tapi nanti insya Allah hari rayanya sama, yaitu tgl 1 Syawal,” tutur KH Zahro.
Untuk Ramadhan 2022, Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 2 Mei. NU belum ada kepastian. KH Zahro berharap penetapan 1 Syawal bisa bersamaan.
“Tanggal 1 Syawal itu insya Allah 2 Mei, insya Allah hari senin. Insya Allah sama-sama ber hari raya. Muhammadiyah puasa 30 hari. Yang jelas, Nabi Muhammad itu, kalau ada pilihan dalam agama, pilih yang ringan. Jadi, panjenengan boleh pilih yang ringan,” ucapnya.
(jqf)