LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Pelaksana Badan Pembina Yayasan Paramadina, Dr Ahmad Ganis, menilai, kaum cendekiawan harus terjun ke desa-desa untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan. Itu merupakan salah satu cara membina sikap toleransi dan membangun kesalehan sosial.
“Watak toleransi harus dimulai dari diri kita sendiri dan diterapkan pada lingkungan. Karenanya, kaum cendekiawan harus terjun ke desa-desa dan pelosok untuk memerangi kebodohan, kemiskinan dan memajukan pendidikan rakyat di pelosok Indonesia,” kata Ganis dalam diskusi di Jakarta, Senin (18/4/2022).
Menurut dia, ada tiga penyebab sikap intoleransi dan radikalisme tumbuh di tengah masyarakat. Pertama, radikalisme kerap lahir dari kebodohan, sehingga mudah terprovokasi oleh para influencer. Radikalisme dan intoleransi, kata dia, merupakan sikap yang bukan terjadi begitu saja di tengah masyarakat.
Baca juga: Penyuluh Agama Islam Berperan Jaga Kerukunan di Indonesia
Akan tetapi, yang menciptakan intoleransi justru terjadi pada tingkat influencer masyarakat. kedua, permasalahan itu tidak bisa dipisahkan dari perbedaan sosial ekonomi. Ada jarak yang menganga lebar.
Ketiga, perbedaan-perbedaan pandangan politik yang picik, misalnya atas isu-isu lokal sederhana saja dapat menyebabkan konflik horizontal. Baik antar desa, suku dan antar agama. Itu terjadi misalnya di Ambon, Poso dan tempat-tempat lain.
“Semuanya adalah
route of the problem yang sebetulnya bisa diselesaikan dengan cara-cara damai dan bijak, di mana para intelektual dan semua pihak mengatasi bersama-sama dengan cara-cara damai,” tutur Ganis.
Menurut Ganis, metode penyelesaian masalah intoleransi dan radikalisme dengan model
symptomatic therapy, entah dengan
approach kekuasaan, transaksional, tidak akan menyelesaikan masalah. Api dalam sekam tetap ada.
Baca juga: Polri Ajak Mantan Pimpinan JI Edukasi Santri soal Bahaya Radikalisme
“Justru semua perbedaan harus dibangun dengan pendekatan-pendekatan batiniah yaitu dengan saling asah, asuh, dan asih. Itulah filosofi bangsa yang semestinya terus diterapkan oleh bangsa Indonesia,” tutur Ganis.
Dia menegaskan, kebhinekaan Indonesia harus dilihat sebagai rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Kesatuan dan persatuan Indonesia bukan transaksional, tetapi lebih diikat pada cita-cita dan kesamaan yang luhur serta cinta Tanah Air.
“Keagamaan dan Kebangsaan menyatu oleh rasa cinta tanah air,” ucap Ganis.
(jqf)