LANGIT7.ID, Jakarta - Sebuah Gereja di Klaten Jawa Tengah diubah menjadi masjid. Perubahan fungsi gereja dilakukan setelah Yayasan Pembina Mualaf (YPM) At-Tauhid membelinya.
Informasi yang dihimpun redaksi Langit7.id, gereja tersebut semula adalah Gereja Kerasulan Baru yang berlokasi di Desa Gentan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah. Namun gereja tersebut sudah tidak melayani peribadatan karena sedikitnya jamaah.
“Sebenarnya ini gereja tua, sejak tahun 80-an ada di sana. Tetapi dalam perkembangannya memang pertumbuhannya tersendat, cenderung semakin lama tidak kelihatan berkembang,” kata Wahyu, Evangelis Gereja Kerasulan Baru dalam forum klarifikasi daring Channel Youtube Teolog Kontekstual, dilihat Kamis (21/4/2022).
Baca Juga: Hal yang Perlu Dipersiapkan untuk I’tikaf 10 Terakhir RamadhanWahyu menjelaskan, Gereja Kerasulan Baru tidak berkembang karena beberapa faktor, di antaranya tempatnya yang berdekatan dengan gereja induk. Gereja Gentan ini berdekatan dengan Gereja Kerasulan Baru induk, yang jaraknya hanya empat kilometer.
"Banyak jemaatnya yang kembali ke gereja induk, pemudanya banyak yang merantau. Apalagi ini gereja pinggiran, jadi anggotanya lama kelamaan habis, terakhir empat orang,” kata Wahyu.
Akhirnya pemimpin pusat Gereja Kerasulan Baru menutupnya. Ibadah penutupan pun dilakukan yang dilanjutkan dengan pengangkutan aset gereja, tapi simbol salib terlupa karena tempatnya yang tinggi.
Ide penjualan gereja pun berjalan, pihak Kerasulan Baru sempat menawarkan ke sejumlah pihak, termasuk pemerintah desa. Namun tidak tercapai kesepakatan harga karena tawaran yang rendah sampai akhirnya dibebaskan yayasan mualaf.
Menurut penuturan Wahyu, diduga terjadi maladministrasi dalam pembelian gereja. Pihak pembeli semula mengaku bangunan Gereja Kerasulan Baru akan menajdi gereja baru dengan nama Kabar Baik, bukan masjid.
Baca Juga: Pesan Ketua MPR ke Pemerintah: Antisipasi Kemacetan Lalu lintas Mudik“Malamnya, diberitahu saudari yang jaga gereja, bahwa menurut Pak Lurah dan Pak RT, gereja itu yang beli bukan orang Kristen, tapi mualaf-mualaf Cina. Saya syok, aaya langsung lapor ke pemimpin pusat, pak Mathias (makelar pembelian gereja) saya telepon, siapa itu yang beli gereja? Dia bilang donatur, donatur itu siapa? Dia sebut Hanny Kristianto. Ya sudah, terjadilah yang sudah anda ketahui semua itu," katanya.
Singkat cerita, gereja itu pun akan diubah menjadi masjid dengan nama Masjid Isa Al-Masih. Azan pertama berkumandang di bekas gereja pada Ahad kemarin dengan agenda buka puasa bersama dan shalat tarawih.
Hanny Kristianto dari Mualaf Center Indonesia (MCI) yang terlibat dalam pengalihfungsian gereja berharap Masjid Isa Al-Masih dapat menjadi simbol persatuan umat. Masjid ini merupakan masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama Isa Al-Masih.
“Di desa ini belum ada masjid, adanya beberapa gereja dan Insya Allah akan menjadi masjid, akan menjadi simbol persatuan, contoh bahwa Islam adalah agama untuk semua orang. Mohon doanya, Insya Allah di tempat ini semakin banyak saudara kita yang mendapat hidayah,” kata Hanny dalam sebuah video di Instagramnya.
Hanny membantah terjadi maladminitrasi pembelian gereja. "Pendeta Daud, kamu tahu kok yang beli saya, rekening saya, apa saya perlu keluarkan ini. Bukti transfernya, notarisnya, surat kuasanya," ujarnya.
Baca Juga: Jawa Barat Kencangkan Proyek Wisata Halal Ramah Muslim"Bahkan saking saya percayanya, belum tahu siapa Anda, sudah saya bayar lunas. Termasuk komisi Anda," imbuhnya.
(zhd)