LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Inventure sekaligus inisiator Indonesia Brand Forum, Yuswohady, menjelaskan tiga orang terkaya di dunia berlomba-lomba memiliki perusahaan media maupun media sosial. Di antaranya ada Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos.
Elon Musk baru saja membeli seluruh saham Twitter. Bezos memilih The Washington Post dan MGM Film Studio. Sementara, Mark yang paling lengkap karena sudah memiliki Meta, Facebook, Instagram, WhatsApp.
“Dalam wawancara di TED beberapa hari lalu, Elon mengatakan motivasinya membeli Twitter bukanlah untuk meraup untung. "
This is not a way to sort of make money," ujarnya. Melainkan untuk mendorong
free speech,” tulis Yuswohady di akun Facebook-nya, Kamis (28/4/2022).
Namun, apakah benar demikian? Uang $44 miliar (setara Rp635 triliun) untuk membeli Twitter bukan nominal kecil untuk sebuah proyek sosial, apalagi merugi.
Baca Juga: Jadi Raja Cuit, Elon Musk Beli Saham Twitter US44 Miliar
Menurut Yuswohady, di balik ucapan klise Elon "menumbuhkan
free speech" dan "mendorong demokrasi" sudah pasti terselip "misi tersembunyi" yang ujung-ujungnya duit.
Lalu apa kira-kira motif tersembunyi Elon, Zuck, Bezos memiliki perusahaan media dan media sosial?
Menurut Yuswohady, mereka menggunakan media untuk mendulang emas di era
surveillance capitalism (Shoshana Zuboff, 2019). Melalui konten dan media, mereka melakukan rekayasa sosial melalui
tracking atau melacak,
mining yakni mengumpulkan, dan
modifying yaitu memodifikasi perilaku masyarakat.
“Dengan senjata algoritma di balik ‘mesin’ yang menggerakkan Facebook, Twitter, or Amazon Prime, mereka membentuk opini, pola pikir, preferensi, perilaku, kebiasaan konsumen,” tutur Yuswohady.
Tentu ujung dari cara itu sudah diketahui. Yuswohady mengatakan, ujung dari langkah tersebut adalah
behavioral forming atau membentuk kebiasaan baru. Hal itu dilakukan untuk membentuk ‘kolam-kolam’ pasar bagi bisnis-bisnis mereka.
“Jadi bertolak belakang dengan statement mereka di media, langkah mereka memborong perusahaan media bukanlah proyek menghambur-hamburkan uang berlebih mereka untuk sosial dan perbaikan peradaban,” kata Yuswohady.
Langkah mereka justru proyek strategis untuk membentuk pola pikir, perilaku, dan selera masyarakat. Itu berujung untuk menciptakan pasar-pasar masa depan bagi bisnis-bisnis mereka.
(jqf)