LANGIT7.ID, Jakarta -
Harga minyak mentah dunia menunjukkan penurunan pada akhir perdagangan, Selasa waktu Amerika Serikat (AS) atau Rabu pagi waktu Indonesia. Pelemahan ini karena kebijakan
lockdown di China yang berlanjut.
Dikutip dari CNBC, Rabu (11/5/2022), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat turun USD3,33 atau 3,2 persen ke level USD100,11 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 3,48 atau 3,28 persen ke level 102,46 dollar AS per barrel.
Baca Juga: Permintaan BBM Meningkat Selama Periode Mudik, BPH Migas Pastikan Stok AmanTercatat pada perdagangan, Senin (9/5) kedua patokan harga minyak dunia turun hingga 6 persen, juga dipicu
lockdown di China karena kasus
Covid-19 yang meningkat. Indeks-indeks utama Wall Street juga berbalik melemah dalam perdagangan yang bergejolak di tengah kekhawatiran atas pengetatan kebijakan moneter yang agresif dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Tak hanya itu, indeks dollar AS mencapai level tertinggi dalam dua dekade imbas kebijakan suku bunga yang agresif Bank Sentral AS. Hal itu sekaligus membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.
Pergerakan harga minyak dunia dipengaruhi kesepakatan Komisi
Uni Eropa untuk menghentikan impor minyak dari Rusia. Proposal tersebut membutuhkan suara bulat oleh anggota Uni Eropa pada pekan ini untuk disahkan. Selain itu, Hongaria menjadi salah satu negara yang berusaha menentang embargo minyak Rusia.
Baca Juga: Larang Ekspor Minyak Goreng, Mendag Terbitkan Permendag 22 tahun 2022Jepang yang 4 persen dari total impor minyaknya diperoleh dari Rusia pada tahun lalu, juga setuju menghentikan pembelian tersebut. Namun waktu dan metode pelaksanaan embargo belum diputuskan.
Sementara di sisi pasokan, Badan Informasi Energi AS memotong perkiraan produksi minyak mentah AS untuk 2022 dan 2023. Produksi 2022 diperkirakan menjadi rata-rata 11,9 juta barel per hari (bph) dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 12 juta barel per hari.
Baca Juga:
Ekspor CPO Dilarang, Jokowi Tegaskan Kebutuhan Masyarakat Paling Utama
Dampak Larangan Ekspor CPO, Pabrik Sawit Turunkan Harga TBS Petani(asf)