LANGIT7.ID - Rasa cemas atau
anxiety merupakan hal normal dirasakan setiap orang ketika mendengar berita yang membawa rasa takut dan khawatir. Akan tetapi,
anxiety perlu diwaspadai jika muncul tanpa sebab atau sulit dikendalikan. Sebab, itu bisa jadi disebabkan oleh gangguan kecemasan (
anxiety disorder).
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, rasa takut yang Allah tanamkan secara fitrah kepada manusia merupakan ketautan yang wajar. Wajar artinya
washatiyah atau berada di tengah-tengah (netral).
"Jadi tengah-tengah ini maksudnya adalah hal yang wajar, takut atau gelisah tiba-tiba anak pulang terlambat, takut ketika awan mendung," kata UAH di kanal Youtube-nya, dikutip Sabtu (14/5/2022).
Baca Juga: Test Anxiety Disorder, Tak Cepat Diatasi Bisa Jadi Lingkaran Setan
Rasa takut atau cemas yang wajar itu bisa ditarik ke kanan atau ke kiri. Jika ditarik ke kanan, maka perkara wajar itu akan naik level yakni mendekat kepada Allah. Itu bisa dilakukan dengan cara memperbanyak dzikir tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari.
Contoh paling konkret dalam masalah ini adalah para sahabat nabi. Banyak di antara sahabat merupakan pebisnis, politisi, panglima perang, diplomat, sampai birokrat. Tapi mereka tidak pernah meninggalkan shalat tahajud dan selalu khatam Al-Qur'an.
"Itu mereka ketakwaannya tinggi. Nah, mereka naikkan dari yang levelnya wajar menjadi tinggi, sehingga harapannya dengan itu semua selalu dalam perlindungan Allah Ta'ala," kata UAH.
Jika ketakutan berbuah positif, maka akan selalu merasa dalam perlindungan dan pengawasan Allah. Saat hendak berbicara pun penuh pertimbangan, takut menyakiti hati lawan bicara. Lisan dan hati selalu dibasahi dzikir.
Akan menjadi masalah jika perkara wajar itu ditarik ke kiri atau terbawa ke arah
anxiety disorder. Pada ranah ini, penderita sangat mudah merasa gelisah atau cemas. Sehingga, keluar pertanyaan-pertanyaan yang tidak wajar. Itu memberikan beban kepada pikiran, alih-alih ketenangan jiwa.
"Karena normalnya ketika menjadi
khasyya yang positif, atau
khauf yang netral itu pikiran tidak terbebani. Masih biasa. Tapi kalau sedikit-sedikit mendapatkan kegelisahan, memberikan beban kepada fikiran, itu was-was dari setan," ucap UAH.
Dalam bahasa agama, kegelisahan yang berdampak pada beban pikiran berasal dari was-was yang dibisikkan setan. "Maka, bagaimana keluar dari situ? mendekat kepada pilihan-pilihan dzikir," tutur UAH.
2 Tips Atas Anxiety Disorder UAH menyebut ada dua hal yang bisa dilaukan untuk mengatasi anxiety disorder. Pertama, iman. Meningkatkan keimanan yakni dengan membangun kekuatan keyakinan kepada Allah Ta'ala dan berlindung kepada-Nya dar godaan setan.
Kedua, berwudhu. Jika muncul rasa was-was maka segera ambil wudhu lalu berdzikir. Berdzikir bisa membaca Al-Qur'an. Bisa juga mendirikan shalat dua rakaat setelah mengambil wudhu. Ini terinspirasi dar Surah Ar-Ra'd ayat 28.
Doa Terhindar dari Rasa Cemas Berlebih UAH mengajarkan beberapa doa untuk mengobati rasa cemas berlebih. Doa pertama berasal dari Surah Al-Mu'minun ayat 97-98.
وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ
Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.”
Doa kedua berasal dar hadits Nabi SAW, sebagai berikut:
اللهم ات نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكها أنت وليها ومولاها
Allahumma 'ati nafsi taqwaha wa zakkaha anta khairu man zakkaha anta waliyyuha wa maulaha
"Ya Allah berikan jiwaku ini ketakwaan, sucikan ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau penolongnya dan pemiliknya." (HR Muslim).
Baca Juga: 7 Ayat Al-Quran Penenang Jiwa, 'Obat' Cemas Berlebihan
Doa ketiga berasal dari doa Nabi Musa AS saat hendak mendakwahi Firaun. Doa itu bisa dibaca saat dada berdegup kencang saat hendak menghadap ke penguasa, dosen pembimbing skripsi, atau pun saat hendak berbicara di hadapan publik.
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku," (QS. Thaha: 25-28)
(jqf)