LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Al-Hikamussalafiyah di Purwakarta sukses membudidayakan melon Inthanon atau Gold Emerald. Produk ini menjadi terobosan baru di sektor usaha untuk
ponpes tersebut.
Inovasi itu berhasil dilakukan oleh para santri dibantu oleh para pengasuh pondok. Ide itu berawal dari kunjungan salah satu pengasuh Pesantren Cipulus, Hadi M Musa Said, ke Pesantren Al-Ittifaq, Bandung, Jawa Barat.
“Ide ini muncul saat melihat Pesantren Al-Ittifaq sukses membudidayakan berbagai macam sayuran, termasuk melon inthanon ini,” kata pria yang akrab disapa Haji Abang ini, dilansir laman NU, Ahad (15/5/2022).
Dari situ, Haji Abang berinisiatif melakukan kerja sama dengan PP Al-Ittifaq dan Bank Indonesia untuk mengembangkan inovasi pertanian budi daya melon inthanon di pesantrennya.
Baca Juga: Ponpes Al-Anshor Bogor Manfaatkan Tunanetra BerkreasiInisiatif itu muncul sebagai upaya menggerakkan dan mengembangkan perekonomian di lingkungan pesantren. Selain itu, inovasi pertanian di pesantren dapat dijadikan sebagai wadah pencetak para santri untuk bisa menjadi santripreneur.
“Selain untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren. Tujuan utamanya adalah mencetak santripreneur, yakni santri yang melek ilmu agama, sekaligus punya keahlian di bidang teknologi pertanian,” harapnya.
Sebab, kata dia, dewasa ini santri bukan saja dituntut untuk pandai mengusai ilmu agama, melainkan juga memiliki keahlian di berbagai bidang, seperti pertanian.
Kini, para santri asuhannya itu berhasil mengembangkan budidaya melon jenis inthanon dengan menggunakan teknik green house modern. Mereka menanam melon pada lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi
“Dari luas lahan garapan yang ada, kira-kira sebanyak hampir 1000 pohon buah melon jenis inthanon sudah ditanam dengan menggunakan sistem green house,” jelasnya
Muslim yang juga aktif sebagai pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) itu menambahkan, dari 1000 pohon yang ditanam, hanya akan menghasilkan 850 buah yang berkategori bagus dan manis.
Sementara untuk harga, pesantren Al-Hikamussalafiyah menjualnya berkisar Rp35-40 ribu rupiah per kepala. Tergantung dari kategori grade A-B.
“Melon ini memang unik. Selain terkenal manis dan berdaging gurih, dari satu pohon hanya bisa berbuah satu biji saja," katanya.
Dia berharap, usaha ini dapat terus berkembang. Sampai dengan menambah luas lahan garapan untuk wahana pembelajaran para santri, sehingga menunjang program kemandirian pesantren.
(bal)