LANGIT7.ID, Jakarta - Propaganda Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (
LGBT) makin marak terjadi. Terakhir Kedubes Inggris di Jakarta terang-terangan mendukung LGBT dengan mengibarkan bendera pelangi di halamannya. Sebelumnya, YouTuber Deddy Corbuzier seringkali mengundang pasangan sejenis di podcastnya.
Baca Juga: Kibarkan Bendera LGBT di Jakarta, Kedubes Inggris Dinilai Tak Hormati Indonesia
Orang tua wajib semakin waspada dalam melindungi buah hatinya agar tidak terpapar pengaruh negatif. Praktisi Islamic Parenting, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, menjelaskan ada 6 penyebab seseorang bisa menjadi
LGBT.
Pertama, faktor makanan. Para ulama mengatakan, makanan haram mempengaruhi perilaku seseorang. Maka orang tua harus memperhatikan setiap suap yang ia berikan kepada keluarga dan anaknya.
"Orang akan mengikuti makanan perilaku yang dimakan itu. Misal babi menyukai sesama jenis, apa aja dihantam. Makanan halal berdampak pada ketaatan, dan makanan haram berdampak maksiat. Maka itu, jangan kasih makanan haram ke anak, karena setan dan jin akan bekerjasama merusak fitrah anak kita," katanya.
Kedua, pola asuh. Pola asuh juga memiliki peranan penting. Di antara penyebab dalam hal ini adalah ketidakterlibatan ayah dalam mendidik anak. Sehingga anak mengalami lapar ayah. Itu membuat anak mencari sosok lain yang bisa dianggap 'ayah'.
Ketiga, lingkungan dan teman bergaul. Rasulullah SAW pernah menyampaikan, akhlak seseorang tergantung lingkungan dan temannya. Maka itu, orang tua harus memperhatikan siapa teman anaknya. Demikian pula lingkungan, misal lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lain sebagainya.
Baca Juga: 5 Sebab Penyimpangan LGBT, Salah Satunya akibat Keretakan Rumah Tangga
Keempat, pornografi. Pornogragrafi merusak otak PFC (otak cortex), sehingga orang sulit membedakan perilaku hewan dan manusia. Pornografi itu akan menagih. Pecandu pornografi tak lagi bisa mendapatkan kepuasaan saat bersama istri. Mereka butuh sensasi.
"Sensasi itulah didapatkan dengan cara yang baru, yaitu mendapatkan kenikmatan dengan cara yang baru," katanya.
Kelima, trauma seksual. Ini bisa terjadi bagi anak yang diperkosa, sehingga takut pada lawan jenis. Anak laki-laki pun demikian, kerap mengalami kejahatan seksual sehingga menimbulkan trauma seksual.
Keenam,
labelling. Kerap dalam kehidupan anak-anak terdengar
labelling seperti bencong. Ini harus diingatkan, agar anak tidak menganggap dirinya bencong dan bisa kembali ke jalur fitrah.
Ustadz Bendri lalu menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi LGBT dalam keluarga. Di antaranya menjalin kedekatan dengan anak sedari dini. Lalu harus ada eterlibatan sosok ayah dan ibu. Membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Memberi stimulasi pada anak sesuai dengan kodratnya dan memberi tahu syariat atau batasan dalam pergaulan. Kemudian memperhatikan bahasa dan pergaulan anak dan membekali anak dengan keterampilan bela diri.
(jqf)