LANGIT7.ID, Jakarta - Kesehatan
rongga mulut harus selalu dijaga. Sebab di sana menjadi tempat hidup bagi ratusan spesies kuman yang dikhawatirkan memiliki pengaruh buruk.
Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya membersihkan diri, khsusunya pada hari Jumat. Seperti disebutkan dalam hadits.
"Mandi pada hari Jumat merupakan kewajiban bagi orang yang sudah baligh, dan agar bersiwak (menggosok gigi), dan memakai minyak wangi bila memilikinya." (HR Bukhari dan Muslim)
Dokter Gigi Rumah Sakit Nasional Diponegoro Undip, drg Tyas Prihatiningsih, mengungkapkan beberapa bakteri flora normal rongga mulut akan berperan sebagai bakteri pioneer pembentuk plak gigi.
Baca Juga: Deteksi Dini Kanker Rongga Mulut dengan Waspadai 3 Gejala Ini"Plak gigi akan terus menerus terbentuk meskipun sesaat setelah menyikat gigi. Hal ini terjadi akibat adanya saliva atau air ludah dalam rongga mulut kita," katanya seperti dikutip laman Undip, Jumat (20/5/2022).
Komponen protein atau musin yang terdapat dalam air liur akan membentuk lapisan pertama yang melekat di permukaan gigi dan permukaan lainnya. Lapisan itulah yang ideal untuk dilekati oleh bakteri pioneer pembentuk plak gigi.
Jika dibiarkan kata dia, pioneer tersebut akan menggandeng bakteri lainnya yang bersifat merugikan, seperti golongan bakteri kariogenik atau bakteri penghasil asam yang dapat menyebabkan karies atau perlubangan gigi.
"Apalagi, rongga mulut juga dapat menerima tambahan kuman dari makanan dan minuman serta kebiasaan buruk pada anak seperti menghisap jempol, menggigit benda-benda, dan lainnya. Sehingga berpotensi menambah kelainan yang dapat muncul di rongga mulut ataupun infeksi," jelasnya.
Ketika hal itu terjadi, maka akan menciptakan karang gigi dan radang jaringan penyangga seperti radang gusi, serta infeksi lainnya. Hal ini dapat menimbulkan gangguan sosial berupa bau mulut dan gangguan estetika ketika kelainan terjadi di gigi depan.
Bau mulut dapat timbul dari dua faktor. Pertama dari sisa makanan, makanan berbau, merokok, kelainan di rongga mulut, jaringan yang mati, karies, abses rongga mulut, karang gigi, radang jaringan penyangga gigi dan kandidiasis.
"Sedangkan faktor kedua berasal dari sistemik, seperti pada penderita diabetes melitus dan gagal ginjal. Gangguan estetika dapat berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang saat mereka bicara dan tersenyum," jelasnya.
Untuk mengatasi hal itu, Tyas menganjurkan agar setiap orang dapat merawat rongga mulut secara kuratif dan preventif.
Adapun perawatan kuratif ini untuk mengatasi kelainan seperti karies atau lubang gigi, radang gusi, serta infeksi jaringan rongga mulut lainnya. Sedangkan upaya preventif meliputi penyikatan gigi secara teratur minimal dua kali sehari di waktu yang tepat pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
"Menyikat gigi merupakan metode utama untuk mengontrol timbulnya plak. Bila masih terdapat sisa kotoran yang tidak bisa terambil dengan sikat gigi, dapat dibantu dengan penggunaan dental floss atau sikat interdental," katanya.
(bal)