LANGIT7.ID - Mariam Abdi Noor, mahasiswi PhD di Departemen Teknik Elektro dan Komputer di Aarhus Univesity Denmark, berhasil menciptakan cincin katup jantung bocor. Katup jantung bocor atau insufisiensi aorta merupakan kondisi di mana katup antara sisi kiri jantung dan arteri utama tidak dapat menutup secara penuh.
Penyakit tersebut memiliki tingkat keparahan beragam, di antaranya disebabkan malformasi kongenital atau pengapuran. Ketika katup aorta bocor, sebagian darah kembali ke jantung, yang berarti jantung harus bekerja lebih keras. Akibat paling fatal, kondisi tersebut bisa menyebabkan gagal jantung.
Ahli medis biasanya mengobati penyakit itu dengan memperbaiki katup jantung yang sakit dan menggantinya dengan katup buatan. Cara tersebut menyebabkan risiko komplikasi. Maka itu, para insinyur di Universitas Aarhus telah bekerjasama beberapa tahun untuk mengembangkan teknologi bedah baru untuk pasien jantung.
Baca Juga: Temukan Semprotan Tahan Aus, Dosen ITS Terpilih Jadi Finalis European Inventor Award 2022
"Katup jantung prostetik adalah bentuk perawatan yang efektif, tetapi juga merupakan prosedur bedah yang relatif rumit yang membawa sejumlah risiko dan komplikasi dalam jangka panjang. Sekarang kami telah menemukan solusi yang dapat mempermudah perawatan pasien, " kata Mariam Noor, dikutip laman resmi Aarhus University, Senin (23/5/2022).
Cincin yang diciptakan Mariam mencegah darah kembali ke jantung. Dia menghabiskan 3 tahun terakhir merancang dan mengembangkan cincin itu. Penemuan tersebut memungkinkan memberi dampak besar dalam dunia operasi.
"Daripada mengganti katup yang rusak, konsep perawatan saya adalah memasukkannya ke dalam arteri utama sehingga mencegah darah kembali ke jantung. Saya telah mengembangkan jenis cincin baru yang mengencangkan di sekitar akar aorta untuk mencegah hal ini," dia mengatakan.
Para ahli medis sebenarnya sudah menggunakan jenis cincin untuk menstabilkan fungsi jantung, hanya saja memiliki resiko besar ketimbang cincin yang diciptakan Mariam. Cincin tradisional berbentuk bulat dan relatif kaku, dan itu membatasi kinerja cincin.
Baca Juga: Dokter Muslim Telah Temukan Obat Kanker Sejak Abad ke-12
Selain itu, penempatan cincin di dalam tubuh merupakan tantangan besar para ahli bedah, karena harus memotong aorta dan membuang arteri koroner.
Cincin baru yang dikembangkan Mariam terbuat dari bahan elastis yang bisa menyesuaikan dengan jaringan tubuh. Cincin itu juga memiliki bukaan, sehingga mudah ditempatkan dengan benar.
"Prosedur pembedahan secara signifikan kurang invasif, dan dengan bantuan pencitraan diagnostik dan pencetakan 3D, kami dapat menyesuaikan kekakuan dan kekuatan cincin dengan anatomi masing-masing pasien. Ini memberi kami beberapa pilihan fantastis, dan teknologinya telah menjanjikan selama uji coba pada hewan,” kata Mariam Noor.
Mariam Noor secara khusus berfokus pada sifat material dan desain cincin untuk mempertahankan dinamika sistem kardiovaskular dengan lebih baik.
"Saya melihat masalah bedah melalui lensa seorang insinyur, karena ada banyak fisika dan matematika dalam sistem kardiovaskular kita. Pendekatan saya adalah memahami cara kerja aorta dan kemudian mentransfer pengetahuan ini untuk merancang cincin yang dapat menciptakan kembali anatomi normal. kondisi pasien,” katanya.
Baca Juga: Dr Hayat Sindi, Muslimah Pendobrak Teknologi Kesehatan Dunia
Cincin terdiri dari inti silikon yang dikelilingi oleh bahan seperti jahitan. Untuk mendokumentasikan efeknya, Mariam Noor bekerja sama dengan rekan-rekannya telah melakukan eksperimen di simulator jantung, itu dimungkinkan untuk mengontrol fungsi pompa, suhu dan aliran.
“Kami dapat mensimulasikan aksi jantung di lingkungan yang sangat tepat yang sangat mirip dengan tubuh manusia. Ini berarti kita dapat mempelajari dengan cermat apa yang terjadi dengan cincin di area frekuensi setiap detak jantung. Ini menarik, dan kami telah memperoleh basis pengetahuan yang sangat mendetail untuk terus digunakan," katanya.
Para peneliti lalu melakukan penelitian untuk melihat cara cincin itu mengembang di dalam tubuh ketika jantung memompa. Mariam Noor sangat terkejut melihat hasilnya.
"Kami melihat pola geometris arteri utama pada babi dengan cincin dan pada babi tanpa cincin, dan kami dapat melihat bahwa kami benar-benar dapat melestarikan dinamika alam. Hasil ini terlihat sangat menjanjikan," katanya.
Dia menekankan, perlu beberapa tahun prosedur persetujuan klinis sebelum cincin jantung dapat bermanfaat bagi pasien.
(jqf)