LANGIT7.ID, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 92 kasus
cacar monyet yang dikonfirmasi dan 28 kasus dugaan telah tersebar di 12 negara anggota yang tidak endemik virus.
Negara-negara tersebut, antara lain Amerika Serikat, Australia, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, dan Inggris.
WHO memperkirakan, akan ada lebih banyak kasus cacar monyet yang menyebar ke negara-negara lain.
"Situasinya berkembang dan WHO memperkirakan akan ada lebih banyak kasus cacar monyet yang diidentifikasi saat pengawasan meluas di negara-negara non-endemik," tulis WHO dalam keterangan resminya, dikutip Langit7.id, Senin (23/5/2022).
Baca juga: Wabah Cacar Monyet, Kenali Gejala dan PenularannyaAdapun penularannya, Kepala Penasihat Medis untuk Badan Keamanan Kesehatan Inggris, Susan Hopkins mengatakan, cacar monyet lebih mudah menginfeksi orang dengan penyakit bawaan.
"Jauh lebih berisiko terkena penyakit parah, terutama individu yang mengalami imunosupresi atau anak kecil," tutur Hopkins.
Infeksi cacar monyet sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala klinis yang bertahan kurang lebih 2 hingga 4 minggu. Sayangnya, saat ini belum ada perawatan khusus atau obat untuk cacar monyet meski sebagian besar kasusnya ringan.
Pengobatan untuk cacar monyet sebagian besar bersifat suportif, seperti gejala batuk atau pilek. Kebanyakan orang sembuh tanpa pengobatan dalam beberapa minggu.
Karena cacar monyet dapat menyebar melalui kontak dekat, pasien perlu diisolasi jika didiagnosis menderita penyakit ini supaya tidak menyebar ke orang lain.
Baca juga: Kemenkes Temukan 18 Kasus Dugaan Hepatitis AkutMeski saat ini belum ada vaksin spesifik untuk melindungi perlindungan diri dari cacar monyet, WHO menyebut vaksin cacar cukup ampuh melawan cacar monyet hingga 85 persen.
"Vaksin tersedia, tetapi pesan pentingnya bahwa Anda bisa memproteksi diri," kata David Heymann, pejabat tinggi WHO dan spesialis penyakit menular.
(sof)