LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah perlu mengembangkan riset
tanaman obat untuk kebutuhan herbal. Sebab negara yang memiliki iklim tropis ini memiliki sumber daya alam luar biasa.
Guru Besar Bidang Kimia Organik Fakultas MIPA Unpad, Dikdik Kurnia menyebutkan, dengan iklim tropisnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu sumber tanaman obat di dunia. Namun, presentase pemanfaatan dan pengembangan obat herbal masih tergolong sangat kecil.
"Data Kementerian Kesehatan, terdapat 19.871 tanaman obat yang digunakan sebagai
ramuan tradisional, 16.218 di antaranya telah diidentifikasi. Dari hasil identifikasi itu, baru sekitar 9.600 spesies yang diketahui memiliki khasiat obat, dan 200 spesies telah digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional," kata Dikdik, Kamis (2/6/2022).
Indonesia berada di peringkat ke-19 sebagai negara pengekspor obat herbal dengan pangsa pasar sebesar 0,61 persen, pada tahun 2019. Nilai ekspor tersebut meningkat menjadi 14,08 persen pada periode Januari-September 2020 dengan pemasukan sebesar USD 9,64 juta.
Adapun negara pengimpor produk biofarmasi Indonesia didominasi oleh India (62,30%), Singapura (6,15%), Jepang (5,08%), Malaysia (3,15%), dan Vietnam (3,17%).
Baca Juga: 3 Tips Olah Tanaman Herbal Jadi Obat supaya Lebih Berkhasiat"WHO telah melakukan regulasi untuk menetapkan obat herbal menjadi salah satu yang direkomendasikan untuk mendukung kesehatan masyarakat selain obat modern. Di Jepang, dokter sudah memberikan resep dua jenis, yakni obat herbal dan obat modern. Keduanya ini diakui pemerintah,” ujar Dikdik.
Indonesia, kata dia, berpotensi dapat menerapkan kebijakan tersebut, sehingga masyarakat akan diberikan pilihan untuk menggunakan obat herbal yang sudah tesertifikasi atau obat modern.
Dia mengatakan, penggunaan obat modern, khususnya antibiotik di Indonesia sebagian besar masih didominasi produk impor. Bila impor terus dilakukan, dikhawatirkan kesehatan masyarakat akan rusak karena resistensi, dan negara tidak bisa mengembangkan obat secara mandiri.
Untuk itu, pengembangan obat herbal menjadi prospek masa depan Indonesia untuk mengurangi impor bahan baku obat. Dengan menggunakan pendekatan etnofarmakologi, yakni riset yang dilakukan memilih bahan baku yang sudah pernah dicoba oleh nenek moyang.
“Kita bisa menggali dengan pendekatan etnobotani-etnofarmakologi, tanaman apa yang sering digunakan nenek moyang untuk pengobatan tradisional. Itu merupakan pendekatan yang paling mudah untuk kita lakukan,” katanya.
(bal)