LANGIT7.ID, Surakarta - Universitas Sebelas Maret (
UNS) membangun gedung Javanologi 'R Ng Ronggowarsito di area kampus
UNS, Surakarta, Jawa Tengah. Hal tersebut diumumkan Rektor
UNS, Jamal Wiwoho, dalam orasi kebangsaan dan
soft launching Gedung Javanologi 'R Ng Ronggowarsito' pada Kamis (2/5/2022).
Jamal menjelaskan, proses pembangunan gedung tersebut memerlukan perjuangan panjang yang tak mudah dihadapi. Bangunan itu digagas berangkat dari ide UNS yang berdiri di Surakarta yang merupakan pusat perkembangan peradaban budaya Jawa.
"(Surakarta) selayaknya memiliki sebuah pusat kajian tradisi budaya Jawa, sekaligus sebagai implementasi dari visi dan misi UNS yang berbasis nilai-nilai luhur budaya nasional," kata Jamal.
Baca Juga: Wayang dalam Pandangan Islam, Cara Brilian Sunan Kalijaga Mengislamkan Budaya
Pada 2011, UNS berhasil mendirikan Pusat Studi Institut Javanologi yang berada dibawah koordinasi LPPM. Dua tahun setelah itu pekerjaan besar dimulai berupa pembangunan Gedung Javanologi UNS berlantai 4.
"Yang ketika itu dimaksudkan antara lain sebagai salah satu alternatif tempat/gedung untuk menampung pengiriman naskah atau buku kuno kebudayaan jawa dari Museum Tropen Leiden di Belanda," tutur Jamal.
Namun dalam proses pembangunan gedung Javanologi, ternyata mengalami berbagai kendala dan tantangan. Pembangunan terhenti pada 2013-2014, dan masuk dalam kategori mangkrak atau Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP).
Namun, berkat perjuangan dan usaha keras, secara bertahap bangunan Gedung Javanologi pada 2022 berhasil dirampungkan. Dengan selesainya pembangunan itu, Jamal berharap gedung tersebut menjadi tempat kajian-kajian dan gagasan-gagasan yang inovatif dan produktif.
Baca Juga: Lingsir Wengi Bukan Lagu Horor tapi Tembang Dakwah Sunan Kalijaga, Ini Makna Aslinya
"Kita sebagai civitas akademika UNS akan merasa bangga, jika Gedung Javanologi dalam pemanfaatanya nanti, mampu memberikan dukungan yang maksimal terhadap upaya mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi budaya nasional, khususnya budaya jawa sebagai bagian dari kearifan lokal untuk memantapkan jati diri bangsa Indonesia," jelas Jamal.
(jqf)