LANGIT7.ID, Jakarta - Tingkat kecerdasan seringkali dikaitkan dengan tingkat keberhasilan seseorang. Itu menjadi penyebab anak-anak berangkat ke sekolah untuk menjamin masa depan mereka.
Kendati demikian, CEO Corporate Innovation Asia (CIAS) Dr Indrawan Nugroho, menilai kecerdasan tidak bisa diukur berdasarkan angka-angka yang tertera dalam ijazah.
“Tapi kenyataannya banyak orang cerdas yang pada akhirnya enggak berhasil dalam hidupnya, sementara ada orang yang dinilai kurang cerdas ternyata berhasil di dalam hidupnya,” kata Indrawan di kanal YouTube-nya, dikutip Kamis (9/6/2022).
Indrawan sepakat dengan definisi kecerdasan yang diutarakan pendiri Apple, Steve Jobs. Cerdas bukan cuma IQ tapi ada EQ dan ragam Q-Q lain. Namun demikian, Steve Jobs ternyata punya definisi sendiri yang berbeda akan makna kata cerdas.
“Definisi itu juga yang membuat Steve Jobs menjadi seorang jenius era modern yang berhasil membangun perusahaan paling bernilai sepanjang sejarah,” kata Indrawan.
Baca Juga: Masa Pertumbuhan Rasulullah Sebagai Model Pendidikan Anak
Lalu, seperti apa definisi cerdas menurut Steve Jobs? Dalam sebuah interview, Steve Jobs mengungkapkan pandangannya tentang karakteristik orang cerdas. Hal paling menarik adalah tidak ada satupun kata-kata kemampuan berpikir out of the box atau dedikasi luar biasa yang disebutkan Steve Jobs.
Steve Jobs berkata, “mereka yang cerdas memiliki kemampuan untuk zoom out. Seperti berada di dalam sebuah kota dan Anda dapat melihat semuanya karena anda berdiri di atas gedung berlantai 80 yang terletak di tengah-tengah kota.”
“Orang lain mencoba mencari cara untuk pergi dari A ke titik B dengan cara membaca peta kecil di tangan mereka. Sementara, Anda sudah bisa melihat dengan jelas dan lengkap di depan Anda, karena Anda bisa melihat semuanya.”
Maka itu, menurut Steve Jobs, orang cerdas mampu membuat koneksi yang bagi mereka itu tampak jelas, tapi Tampak membingungkan bagi orang lain. Itu karena orang cerdas mengembangkan keterampilan
zoom out tadi. Sehingga, mereka mendapatkan pandangan yang lebih baik tentang gambaran besarnya.
Baca Juga: Rahasia Rasulullah Didik Sahabatnya Jadi Manusia Baru Bangkitkan Peradaban Islam
Lalu, bagaimana caranya untuk bisa cerdas seperti itu?
Jawaban dari pertanyaan ini berhubungan erat dengan memiliki pengalaman hidup yang unik. Jika anda memiliki kumpulan pengalaman yang sama seperti orang lain, maka kemungkinan koneksi yang dibuat akan sama dengan orang lain. Itu menyebabkan anda tidak akan menjadi inovatif.
“Makanya mungkin anda perlu untuk pergi ke Paris dan menjadi penyair di sana selama beberapa tahun, atau anda mungkin bisa ke beberapa negara dunia ketiga. Saya menyarankan begitu,” kata Steve jobs.
Sebuah studi yang dilakukan Christiane Nieb dan Hannes Zacher pada 2015 menyimpulkan, keterbukaan terhadap pengalaman adalah prediktor terbaik untuk tingginya kinerja seseorang ketika berada dalam situasi pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. Studi itu menemukan, interaksi sosial yang lebih luas akan sangat membantu.
Baca Juga: JBR: Buku Tetap Jadi Inspirasi Kehidupan dan Penentu Peradaban
Hal-hal itu tentu saja sesuai dengan apa yang sering dikatakan oleh Jobs, orang yang terbuka terbuka terhadap pengalaman baru dan interaksi sosial akan mencari situasi yang paling menarik dan tidak standar dalam hidup mereka.
Hal itu menghasilkan, mereka mendapatkan kekayaan perspektif yang tak ternilai. Tentu saja hal itu juga membantu menjelaskan banyak pemimpin perusahaan besar yang sukses, rajin membaca buku, seperti Elon Musk, Bill Gates, atau Jeff Bezos. Mereka semua adalah pembaca buku tulen.
Buku merupakan cara termudah bagi seorang introvert untuk mengumpulkan wawasan unik yang membentuk pandangan dunia mereka sendiri. Melalui buku-buku itu, mereka dapat memperluas cakrawala mental.
“Jadi, menjadi masuk akal Jika seseorang yang membaca 100 buku bisnis klasik, kemudian akhirnya bisa melihat pergerakan tren, sehingga mampu menangkap peluang sebuah orang lain,” kata Indrawan.
Baca Juga: Akses Literasi Meningkatkan Kualitas SDM dan Kewirausahaan
Tentu saja buku perlu dilengkapi dengan pengalaman yang beragam. Banyak yang bisa dipelajari dari pengalaman berteman dengan orang-orang yang punya latar belakang berbeda. Juga bisa belajar dari situasi dan lingkungan yang tak biasa dihadapi.
Semasa kuliah, Steve Jobs berkelana ke India untuk mempelajari Zen dan Filosofi Timur. Itu mempengaruhi desain dari semua produk-produk Apple hingga hari ini. Steve berkata,
“creativity is just connecting things (kreativitas hanya menghubungkan titik-titik).”
Hal yang membedakan Steve Jobs dengan kebanyakan orang adalah dia memiliki titik-titik dengan jumlah yang sangat banyak dengan bentuk yang beraneka-ragam. Maka wajar, ketika dia hubungkan titik-titik itu, maka hasilnya adalah sebuah maha karya inovasi yang mengubah dunia.
(jqf)