Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home lifestyle muslim detail berita

Makanan Para Datuk, Rendang Dibuat dari Bahan Berfilosofi Tinggi

Fifiyanti Abdurahman Senin, 13 Juni 2022 - 18:03 WIB
Makanan Para Datuk, Rendang Dibuat dari Bahan Berfilosofi Tinggi
Rendang makanan khas masyarakat Minangkabau. Foto: Unsplash.
LANGIT7.ID - , Jakarta - Tahukah Sahabat Langit7 bila nama rendang bukanlan merujuk pada makanannya namun melainkan pada proses pengolahannya? Merujuk dari Kementerian Pendidikan Direktorat Jenderal Kebudayaan rendang atau randang berasal dari kata marandang.

Istilah marandang sendiri berarti proses mengolah lauk berbahan dasar santan dengan cara memasak hingga kandungan airnya kering atau habis. Rendang merupakan makanan tradisional yang berasal dari Sumatera Barat atau biasa disiapkan oleh masyarakat Minangkabau.

Baca juga: Jangan Ragu Makan Rendang, Masakan Minang Terkenal Halal

Rendang atau ‘Randang’ dalam bahasa setempat lebih dikenal orang sebagai makanan khas dari Padang. Sehingga seringkali penyebutan rendang adalah rendang padang, bukan rendang Minangkabau.

Jadi, bila merujuk dari istilah dasarnya, rendang adalah kering air. Makanan ini pada umumnya berwarna merah kecoklatan, coklat sampai coklat kehitaman.

Proses pembuatan rendang adalah cara sederhana masyarakat Minangkabau pada masa lalu dalam mengawetkan makanan. Proses pengawetan ini dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan bahan kimia tetapi melalui proses pemanasan berkali-kali. Semakin kering randangnya, maka semakin membuatnya tahan lebih lama.

Konon, ada kalanya suatu waktu masyarakat memasak daging menggunakan banyak santan dan bumbu tertentu yang tidak habis dalam sehari konsumsi. Untuk mencegah terbuangnya makanan yang bersisa, maka masyarakat mencoba cara bagaimana membuat makanan tersebut bisa bertahan lama dan tetap layak konsumsi.

Karena keterbatasan peralatan dan teknologi pada masa lalu, satu-satunya cara untuk membuat makanan tahan lama dan tidak basi adalah dengan menghangatkan. Masyarakat pada jaman dahulu memasak rendang di atas api sangai (api sangat kecil yang diatur agar jangan sampai menghanguskan) sampai kering.

Proses ini dilakukan secara tradisional, yakni dimasak diatas tungku dengan menggunakan kayu bakar. Pada awalnya dimasak dengan api besar, lalu dilanjutkan dengan menggunakan api sangai yang berasal dari pembakaran sabuk kelapa. Dilakukan berulang kali hingga makanan tersebut mengering dan menghasilkan rendang.

Baca juga: Rekomendasi Makan Siang, Yuk Cicipi Rendang di Restoran Padang Ini

Secara umum, rendang terbagi dua yaitu kering dan basah. Untuk jenis kering adalah randang yang sudah berwarna coklat kehitaman. Berbeda halnya dengan jenis basah yang masih berwarna merah kecoklatan sampai coklat.

Dalam proses memasak rendang ada tiga tahapan yang harus dilalui. Pertama adalah ‘Gulai’, olahan masakan berbahan santan bercampur bumbu yang masih banyak kandungan airnya.

Kemudian ‘Kalio’, olahan masakan berbahan santan bercampur bumbu yang kandungan airnya sudah sangat berkurang sehingga kuah yang dihasilkan lebih kental dari gulai dan sudah mengeluarkan minyak dari santan yang dimasak. Dan ‘Randang’, merupakan kalio yang terus dimasak sampai kering.

Pada masa sekarang, memperoleh rendang dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sesulit di masa lampau. Hal ini karena rendang bukan lagi makanan istimewa yang hanya dimiliki oleh golongan-golongan menengah ke atas seperti jaman dulu.

Namun semua orang sudah bisa menikmatinya tanpa kecuali dan tanpa batasan waktu. Jenis rendang juga semakin beragam ada rendang telur, daging, ikan, daun dan sebagainya. Penggunaannya juga tidak lagi hanya pada perayaan-perayaan tapi sudah menjadi konsumsi keseharian.

Ada empat kegunaan rendang dalam masyarakat Minangkabau yaitu sebagai sebagai sajian dalam upacara adat yang wajib ada dalam setiap pelaksanaan perhelatan atau perayaan seperti kelahiran sampai pada kematian.

Baca juga: Puan Bocorkan Resep Rendang Ayam Lezat Buatan Megawati, Yuk Coba

Selanjutnya, rendang sebagai panahan ulak yaitu bisa dimanfaatkan sebagai makanan cadangan untuk penutup malu terhadap orang yang datang sehingga tidak dianggap sebagai orang yang kekurangan.

Lalu, rendang sebagai sajian sehari-hari dan terakhir rendang sebagai oleh-oleh untuk tamu atau bekal di jalan untuk saudara, anak dan kaum kerabat lainnya yang sedang bepergian atau merantau.

Walau sekarang rendang sudah bisa ditemukan dalam banyak jenis, namun rendang yang paling utama adalah berbahan dasar daging. Rendang memiliki empat bahan pokok, yakni daging, kelapa, cabe dan bumbu dimana masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda.

Menurut masyarakat Minangkabau, daging melambangkan ‘ninik mamak’ dan ‘bundo kanduang’ yang akan memberikan kemakmuran kepada anak kemenakan dan anak pisang.

Kelapa merupakan lambang cerdik pandai, yakni kaum intelektual yang akan menjadi perekat pada kelompok individu. Cabe, lambang alim ulama yang pedas dan tegas untuk mengajarkan syarak dan agama. Dan bumbu, lambang setiap individu atau kelompok dalam kehidupan dan merupakan unsur yang penting dalam hidup kebersamaan dalam suatu masyarakat.

Baca juga: Cobain Resep Rendang Istimewa Ini, Cocok Jadi Lauk Makan Ketupat

Dahulu, rendang tidak untuk dikomersilkan, tetapi khusus untuk sajian para ‘datuk’, penghulu, ‘ninik mamak’ dan anggota masyarakat lainnya. Akhir-akhir ini sudah menjadi barang dagangan yang menghasilkan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Dengan adanya industri rumah tangga rendang, masyarakat umum tidak lagi susah mencari oleh-oleh. Sebagai salah satu karya budaya, rendang pun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)