LANGIT7.ID, Jakarta - Surat Al Kautsar disebut surat terpendek di dalam Al-Qur'an. Kandungan utama surat ini menjelaskan banyaknya nikmat yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah Saw dan umatnya.
Di antara nikmat-nikmat tersebut yaitu Rasulullah diberikan keturunan yang banyak dan salih serta Telaga Kautsar di surga. Allah memerintahkan agar Rasulullah mensyukuri nikmat tersebut dengan mendirikan shalat dan berkurban. Keduanya semata-mata dilaksanakan karena Allah.
Berikut redaksi surat Al-Kautsar ayat 1-3:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Baca Juga: Tafsir Luqman Ayat 17: Membekali Anak dengan Pengetahuan AgamaArtinya: "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."
Surat Al-Kautsar dipahami ulama sebagai dalil perintah untuk berkurban bagi umat muslim. Kurban merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir Fii Dzilalil Qur'an, ayat pertama surat Al Kautsar menjelaskan tentang kenikmatan yang melimpah yang diturunkan kepada Rasulullah dan umatnya. Kenikmatan tersebut tidak pernah putus diberikan Allah SWT.
Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa makna al kautsar merupakan sebuah telaga di depan surga. Kelak Rasulullah dan orang-orang salih akan minum di telaga tersebut sebelum memasuki surga.
Baca Juga: Tafsir Al Insyirah Ayat 5-6: Bersama Kesulitan Pasti Ada KemudahanMenurut Ibnu Jarir, ayat kedua surat Al-Kautsar menjelaskan pentingnya meluruskan niat dalam beribadah. Di antaranya shalat dan qurban harus diniatkan semata hanya karena Allah.
Shalat dan qurban, menurut Ibnu Jarir, merupakan tanda syukur atas segala pemberian Allah kepada hamba-Nya. Tak ada yang dapat menandingi kebaikan yang diberikan Allah.
Ayat terakhir merupakan penegasan Allah kepada pera pembenci Rasul-nya. Bahwa para pembenci dan penghina Rasulullah pada akhirnya abtar (terputus) dari nikmat Allah.
Seperti yang dialami oleh Ash bin Wail yang suka menghina Rasulullah. Ia jadi orang abtar karena anak-anaknya mati. Selain itu ia juga terputus dari sejarah, namanya tidak dikenal kecuali kejelakannya.
Baca Juga: Cerita WNI Berhaji dari UK: Tak Ada Masa Tunggu dan Diprioritaskan Saat Ibadah Haji
Baca Juga: Berjuang Menabung 12 Tahun, Tukang Sapu di Pontianak Bisa Naik Haji(zhd)