LANGIT7.ID, Jakarta - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (
PBNU), KH Miftachul Akhyar, meminta jajaran pengurus
Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai level memperkuat ruhiyah dalam menyambut Abad Kedua NU.
NU lahir pada 16 Rajab 1344 H dan akan memasuki 100 tahun pada 16 Rajab mendatang. Dia berpesan, 100 tahun itu bukan waktu singkat. Amanah yang dipikul semakin berat.
“Karena kemarin kita masih menghadapi Indonesia, sekarang yang kita hadapi adalah dunia. Itu memang sudah lama dinantikan, kiprah kita di dunia ini,” kata KH Miftachul Akhyar saat memberikan sambutan dalam Rapat Plebo dan Kick Off Peringatan “
Satu Abad NU” di Hotel Sultan Jakarta pada Senin (20/6/2022).
Baca Juga: Sambut Satu Abad NU, Ini 9 Kegiatan yang Akan Digelar
Maka itu, kata Kiai Miftah, pengurus NU harus menjadikan wasiat-wasiat Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalankan semua agenda-agenda NU. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memberikan penekanan penguatan ruhiyah. Di antaranya Surah Al-Anfal ayat 45-47. Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.” (QS Al-Anfal: 45).
NU sudah melebarkan sayap ke dunia internasional. Itu artinya skala gerakan sudah mendunia juga. Tentu banyak kelompok yang akan ditemui. Baik kelompok yang pro terhadap Islam ataupun yang memusuhi.
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam tidak lari jika bertemu dengan ragam kelompok. Tapi, kelompok harus memantapkan diri menghadapi kelompok itu. Persiapan diri itu mesti diiringi dengan memperbanyak zikir kepada Allah.
“Ini kekuatan-kekuatan ruhiyah yang perlu kita miliki saat kita sedang mengharapkan suksesnya menyongsong abad kedua NU,” kata KH Miftachul Akhyar.
Lalu, Allah berfirman pada ayat selanjutnya:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS Al-Anfal: 46).
Dalam melakukan sebuah gerakan dakwah tentu banyak tantangan dan rintangan. Maka itu, Al-Qur’an memerintahkan untuk bersabar. Di sisi lain, umat Islam juga diminta menghindari segala bentuk perselisihan sekecil apapun itu.
“(Perselisihan) akan mengakibatkan nama harummu akan turun, akan lemah, akan menjadikan lumpuhnya gerakan kalian. Lalu, diserukan untuk bersabar dalam menghadapi tantangan,” tutur KH Miftachul Akhyar.
Kiai Miftach menyebut, huruf Dhadh dalam lambang NU melampaui jagat. Artinya, NU punya tugas untuk membuktikan Dhadh betul-betul melampaui jagat. Paling tidak men-dhadh-kan dunia. Ini tentu perlu kesabaran.
Antara Imam Al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani memiliki kesamaan dalam
nashru da’wah dan
nashru Islam, maka berkat ikhtiar ruhiyah, beberapa dekkade kemudian lahirlah pahlawan dunia yakni Salahuddin Al-Ayyubi.
“Itu hasil daripada bagaimana antara Imam Ghazali yang dilanjut Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, akan kita temukan konsep-konsep bagaimana melahirkan generasi-generasi handal, unggul, pemenang,” tuturnya.
Baca Juga: Seabad NU, PBNU Akan Hadirkan Ulama se-Dunia di Muktamar Internasional Fikih Peradaban
Konsep kekuatan ruhiyah harus dipahami secara mendalam agar visi-misi NU bisa tercapai di bawah ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS Al-Anfal: 47).
“Jangan kita meniru mereka-mereka yang menampakkan kesombongan, kekuatan fisik yang kosong tanpa kekuatan ruhiyah. Yang ada hanya menghalangi kebaikan di permukaan bumi,” pungkas KH Miftachul Akhyar.
(jqf)