LANGIT7.ID - , Jakarta - Pengadilan tinggi administrasi Prancis mengeluarkan keputusan melarang penggunaan
burkini, pakaian renang yang menutupi tubuh, Selasa (28/6/2022). Burkini dinilai melanggar prinsip netralitas negara terhadap agama.
Sejak 2016, Prancis melarang penggunaan burkini di kolam renang umum. Namun, setelah protes dari wanita Muslim, Dewan Kota Grenoble menangguhkan larangan tersebut, hingga akhirnya keputusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan tertinggi
Prancis.
Burkini mulai dikenalkan oleh perancang busana Lebanon-Australia, Aheda Zanetti di tahun 2004. Burkini memungkinkan wanita Muslim untuk menikmati pantai Australia tanpa harus melanggar aturan batasan aurat.
Baca juga: Kenalkan Baju Renang Muslimah, Rocella Manfaatkan Muslim Life Fair 2022Sejak itu, burkini pun menjadi subyek banyak kontroversi. Seperti Prancis yang membanggakan diri pada sekularisme hingga menganggap burkini sebagai simbol ekstremisme agama.
Namun, pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh tidak selalu
religius. Ada banyak alasan wanita tertarik pada pakaian renang gaya burkini untuk bersantai di kolam renang umum dan pantai.
Lindsay Lohan pernah mengenakan burkini saat berlibur ke Thailand pada 2017 silam. Enam tahun sebelumnya, tokoh televisi Inggris Nigella Lawson membuat kehebohan ketika dia mengenakan burkini dari merek Muslim Modestly Active saat berlibur di Sydney.
Chiara Taffarello, desainer Italia di balik merek pakaian renang mewah sederhana Munamer, yang berpartisipasi dalam Pekan Mode Mode Dubai tahun lalu, mengungkapkan bahwa sekitar 20 persen pelanggannya adalah non-Muslim.
“Banyak wanita Eropa yang memesan burkini full-set terkadang tidak menggunakan penutup kepala atau bahkan legging, tetapi membelinya karena mereka membutuhkan atasan berlengan panjang yang menutupi hingga setengah kaki mereka,” kata Taffarello seperti dikutip The National, Kamis (30/6/2022).
Baca juga: Rasis dan Islamofobia, DPR Minta Menlu Panggil Dubes India“Kebutuhan menutup aurat tidak hanya dilatarbelakangi oleh agama, tetapi bisa juga karena alasan kesehatan atau pribadi. Jika Anda ingin mempertahankan hak pergi ke pantai dan kolam renang untuk semua orang, saya yakin Anda dapat menemukan solusi dan kompromi lain,” kata Taffarello, yang tidak setuju dengan larangan burkini yang diberlakukan pemerintah Prancis.
“Untuk scuba diving dan olahraga air lainnya, perenang sering memakai pakaian yang membutuhkan perlindungan dari
sinar UV atau dingin,” jelasnya.
Ini menunjukkan bahwa burkini memberikan cakupan yang sama seperti pakaian selam peselancar, yang tetap tanpa stigma di dunia barat.
Munculnya
modest fashion, yang sebagian besar didorong melalui media sosial, membantu menghancurkan stereotip tentang pakaian konservatif dan pakaian renang. Tidak hanya merek olahraga seperti Nike dan adidas yang ikut serta dalam burkini, tetapi label mewah seperti Cynthia Rowley dan toko kelas atas termasuk H&M juga mulai merancang pakaian renang lengan panjang yang bergaya.
Arab Saudi yang identik dengan fashion modest, dengan merek Maya dan Nur, membuka jalan burkin makin bergaya. Musim semi ini, influencer Dubai Hadia Ghaleb, dengan dua juta pengikut di Instagram, meluncurkan merek pakaian renang inklusif, memberikan burkini peningkatan yang keren dan penuh warna.
Baca juga: Kain Wastra, Kekuatan Indonesia untuk Jadi Pusat Modest Fashion DuniaSementara industri fesyen menerima modest fashion, hijab dan burkini tetap dianggap sebagai simbol politik, terutama di Prancis. Di mana senat negara ini melarang pengenaan jilbab pada anak di bawah umur.
Kebijakan ketat tentang pakaian renang, bisa dianggap sebagai
Islamofobia, karena salah mengartikan burkini sebagai simbol patriarki budaya atau agama.
(est)