LANGIT7.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadiri tahlil dan takziyah malam kedua wafatnya Habib Saggaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri. Anies menyebut umat Islam dan bangsa Indonesia telah kehilangan mutiara paling bersinar dengan kewafatannya.
Anies merasakan betul kemuliaan akhlak Habib Saggaf. Pribadinya yang teduh, santun membuat siapa saja yang menemuinya merasa tenteram.
“Saya selalu merasakan keteduhan kebahagiaan ketenangan dan ilmu yang luar biasa setiap kali bersama Habib Saggaf,” katanya, Kamis malam secara virtual.
Pertemuan pertama Anies dengan Habib Jufri terjadi sekitar tahun 2011-2012. Saat itu, Anies masih menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Momen pertemuan yang tak bisa dilupakan inisiator Gerakan Indonesia Mengajar ini.
“Keluasan ilmunya terasa betul bagi siapa pun yang mencoba mencicipinya. Kebijakan dan kedalaman dalam membaca, menganalisa, dan memberikan arah,” tuturnya.
Menurutnya, ketentraman dan kenyamanan di kota Palu terus terjaga sebab kehadiran Habib Saggaf Al Jufri. Ia menyebut almarhum sebagai Paku Bumi-nya Indonesia bagian timur.
“Allahuyarham adalah Paku Bumi, bukan hanya Sulawesi Tengah, tapi kawasan timur Indonesia,” kenangnya.
Anies memandang, jika Waliyullah Celebes, Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al Jufri) adalah pendiri atau peletak fondasi utama Alkhairaat, maka ia menyebut Allahuyarham Habib Saggaf sebagai pengarah maupun pembimbing ulung Alkhairaat.
Karena, lanjut Anies, hal itu tak lepas dari perkembangan yang luar biasa pada Alkhairaat dan sudah menjadi rujukan penting umat Islam secara umum di Indonesia, secara khusus kawasan timur Nusantara.
Estafet dakwah yang terpelihara menjadikan Alkhairaat sebagai pusat pendidikan Islam di Sulawesi dan pulau sekitarnya. Menjadi inspirasi bagaimana seorang manusia dalam usianya yang singkat bisa menumbuhkan lebih dari 600 lembaga pendidikan.
(jqf)