LANGIT7.ID, Jakarta - Penderita Covid-19 banyak mengonsumsi konten keagamaan melalui media sosial untuk memperkuat spiritual. Sifatnya yang fleksibel, mudah diakses, tak terbatas ruang dan waktu membuat platform media sosial menjadi teman selama menjalani isolasi dan perawatan.
Survei Pusat Penelitian dan Pengembangan Bimas Agama, Kementerian Agama (Kemag) mencatat responden yang memanfaatkan media sosial untuk mendengar ceramah agama sebesar 56,6 persen. Diikuti dengan menyaksikan siaran televisi dan ceramah radio (50,8 persen).
"Mungkin karena ini di masa PPKM dan tetap harus menjaga protokol kesehatan, medianya itu tetap dengan media sosial," ujar Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag RI M Adlin Sila dikutip saat acara bincang-bincang TV MUI, Jumat (6/8/2021).
Menurutnya, tingginya minat pasien Covid-19 terhadap ceramah agama di media sosial bisa menjadi pintu masuk pemuka dan penyuluih agama menyediakan konten-konten digital. "Jadi mungkin penyuluh agama bisa membuat konten ceramah khusus penderita Covid-19 dan di upload di media sosial," ucapnya.
Konten keagamaan di media sosial dan ceramah agama di TV atau radio lebih banyak dipilih responden dibanding baca buku (26,3 persen), layanan konseling (20,2 persen), kunjungan pemuka agama (11,4 persen), dan pertemuan massal keagamaan (4,6 persen).
Pandemi secara umum mendorong semua kalangan responden lebih relijius. Responden penderita dan penyintas lebih beraktivitas spiritual. Semakin tua usia responden, semakin merasa pengaruh Covid-19 terhadap keyakinan atau praktik keberagamaannya.
Survei menemukan, mayoritas responden (81 persen) merasa semakin religius sejak mereka mengalami atau menjalani pandemi Covid-19. Mayoritas responden (97 persen) juga merasa keyakinan atau keberagamaan mereka membantu secara psikologis dalam menghadapi pandemi dan dampaknya.
Survei bertajuk Urgensi Layanan Agama di Masa Pandemi Covid-19 tersebut dilaksanakan 8 hingga 17 Maret 2021 secara daring. Responden yang terjaring sebanyak 1.550 yang terdiri dari para penderita Covid-19, penyintas, dan masyarakat di 34 provinsi dengan cukup tersebar dan sebangun dengan populasi masyarakat Indonesia.
Metode
accidental sampling (non-probabilitas), temuan hanya berlaku bagi responden. Melengkapi dan memperkuat temuan kuantitatif, dilakukan pengumpulan informasi kualitatif dengan mewawancara per telepon 20 informan terpilih.
(asf)