LANGIT7.ID - , Jakarta - Sebulan belakangan, masyarakat Jakarta dan sekitarnya mengenal istilah baru dari SCBD. Jika semula publik mengenal SCBD sebagai Sudirman Central Business District, kini akronim tersebut berubah menjadi Sudirman Citayam Bojong Gede Depok (
SCBD).
Istilah ini dikaitkan dengan fenomena
Citayam Fashion Week yang memajang remaja berpakaian nyentrik bergaya di area Stasiun Sudirman hingga Halte MRT BNI City. Kemunculan abege dari pinggiran Jakarta ini pun memantik respons positif sekaligus negatif.
Baca juga: Peneliti TII: Ada Sisi Positif Negatif dari Fenomena Anak SCBDSebut saja Gubernur DKI Jakarta
Anies Baswedan yang melihat fenomena ini sebagai keberhasilan pembangunan ruang ketiga. Di mana ruang ini berfungsi menyetarakan pengunjung dari berbagai kelas. Anies juga mempersilakan remaja Citayam Fashion Week untuk mengekspresikan diri selama tetap menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.
Begitu pun dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Sandiaga Salahudin Uno, yang memberi tanggapan positif. Menurut Sandiaga, keberadaan remaja yang menamakan diri Anak SCBD ini memberi peluang ekonomi dan memajukan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).
Penjual kopi keliling atau lebih dikenal dengan
Starling (Starbak Keliling) pun ikut kecipratan rejeki dari fenomena ini. Salah satu pedagang starling yang mengalami berkah tersebut, yakni pria asal Madura, Abdi.
Abdi mengaku omsetnya meningkat sejak adanya kumpulan remaja SCBD. Meskipun, hanya setiap Sabtu dan Minggu tapi tetap saja ia cukup mendapatkan keuntungan.
"Sebelum ada anak-anak SCBD, pendapatan saya sedikit sekitar Rp300.000 per hari. Itu juga kotor. Setelah ada mereka, sehari saya bisa dapat Rp600.000 sampai Rp700.000. Kebanyakan dari mereka beli Capucinno atau Nutrisari," ujar Abdi kepada Langit7, Sabtu (16/7/2022).
"Saya pindah jualan juga pendapatnya sama. Terus yang banyak mereka beli itu Cappocino sama Nutrisari," tutur Abdi yang berjualan dari pagi hingga sore hari.
Fenomena kumpulan remaja ini selain mendatangkan keuntungan bagi Abdi juga ikut memberi warna lain. Menurut Abdi, biasanya daerah Dukuh Atas hanya dilewati para pekerja saja.
Baca juga: Fenomena Anak SCBD, Pengamat Ekonomi: Bawa Dampak PositifRamainya Anak SCBD selain membawa dampak positif bagi pedagang kecil, juga membawa persoalan lain. Menurut Abdi, permasalahan baru yang dihadapi akibat fenomena ini adalah dirinya harus berpindah tempat jualan.
"Biasanya saya jualan di bawah, dekat Terowongan Kendal. Cuma sudah dilarang sama Satpol PP, karena kemarin banyak sampah. Masalahnya, anak-anak buang sampah sembarangan, akhirnya kita juga kena. Makanya tidak dibolehkan lagi jualan di bawah," katanya.
Meningkatnya omset starling ini ternyata sudah diprediksi oleh peneliti bidang ekonomi The Indonesian Institute (TII) Nuri Resti Chayyani. Menurut Nuri, kebiasaan masyarakat nongkrong di trotoar menjadi pangsa pasar dari penjual starling.
"Otomatis penjualan mereka akan meningkat. Tapi memang sebelum ada fenomena ini starling memang sudah ada namun memang tidak seterkenal sekarang," ujar Nuri kepada Langit7, Senin (18/7/2022).
Nuri mengatakan fenomena starling dari segi permodalan tergolong unik. Sebab, mereka berjualan menggunakan sepeda, kemudian yang dijual adalah minuman yang menunjukkan ciri khas orang Indonesia. Kehadiran mereka pun tak tergerus gempuran kedai kopi yang menjamur beberapa tahun belakangan.
"Masyarakat Indonesia hobinya minum minuman rasa-rasa dan dicampur es. Meski
coffeeshop merebak di mana-mana, tapi starling tetap bisa membunyikan krincingnya dan melewati jantung ibu kota," katanya.
Baca juga: Fenomena Anak SCBD, Bentuk Demokratisasi Jalan SudirmanNamun, keberadaan starling juga tengah di ujung tanduk. Saat ini pemerintah tengah menggodok kebijakan pemberlakuan cukai untuk kemasan plastik dan minuman berpemanis.
Nuri mengatakan aturan pemerintah tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah plastik di laut dan menekan risiko kesehatan. Sebagai informasi, Indonesia menjadi negara kedua sampah plastik terbanyak di dunia. Sementara, cukai minuman berpemanis dianggap menjadi salah satu faktor penentu pertambahan penderita diabetes.
"Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi penyakit diabetes di Indonesia mengalami peningkatan dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen," lanjut Nuri.
Nuri menerangkan bila aturan pemberlakukan cuka tersebut disahkan, bisa berdampak pada penjualan starling.
"Harganya akan naik, modal akan bertambah dan secara tidak langsung omsetnya akan turun. Orang-orang akan memilih kedai kopi yang menawarkan harga bersaing. Lama kelamaan (starling) akan punah," tutup Nuri.
Baca juga: Sandiaga Ingin Citayam Fashion Week seperti Harajuku di Jepang(est)