LANGIT7.ID, Jakarta - Sabtu (7/8/2021) kemarin, umat Islam di Nusantara kembali mendapat kabar duka. KH Mahrus Amin, Ulama pendiri Pondok Pesantren Darunnajah dan penggagas 1000 pesantren meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Premiere Bintaro pada pukul 16.20 WIB.
Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah itu lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 14 Februari 1940. Ia putra dari pasangan Casim Jasim Ahmad Amin dan Hj. Jamilah binti H. Muharom. Beliau menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Islam Losari Brebes (6 tahun) pada 1954, lalu melanjutkan pendidikan di Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor selama 6 tahun pada 1954-1961, dan menempuh pendidikan tinggi di IAIN Jakarta Fak. Ushuluddin Jurusan Ilmu Dakwah pada 1962 – 1972.
Kiai EntrepreneurKH Mahrus Amin membesarkan Ponpes Darunnajah yang beliau rintis dan dirikan pada 1974. Pesantren itu dimulai dari Petukangan hingga Ulujami dengan manajemen pesantren modern. Konsep pesantren modern itu membawa beliau mendapat julukan Kiai Entrepreneur.
Pesantren Darunnajah memiliki atmosfer yang sejuk dengan pemandangan hijau. Menurutnya, alasan menjadikan pesantren modern dan hijau agar para santri bisa mandiri dan betah belajar agama. Demikian pula dengan unit usaha yang ada di dalam pesantren.
Pesantren Darunnajah memiliki beberapa unit usaha sebagai penggerak ekonomi pesantren seperti unit produksi Peci, Pembibitan tanaman hias, ticketing, perkebunan, koperasi simpan pinjam, Bank Syariah, serta toko serba ada. Semua hasil dari unit usaha itu diperuntukkan untuk biaya kehidupan santri.
Darunnajah di bawah bimbingan KH Mahrus Amin tak mendapat bantuan dana dari pemerintah. Namun itu bukan masalah. Ia mendidik santri untuk berwirausaha. Ia ingin menjadikan pesantren hanya berpusat ke masjid sebagai peningkatan mutu pendidikan. Pesantren harus menjadi pusat usaha ekonomi berciri khas Islam seperti konsep syariah.
Penggagas 1000 PesantrenKonsep 1000 pesantren yang beliau usung disambut positif pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Beliau melatih serta memberikan bekal pada setiap pimpinan Pondok Pesantren yang dikirim oleh pemerintah Kabupaten/kota se-Indonesia.
Beliau menggagas pendirian 1000 Pesantren Nusantara dengan Gerakan Nasional, Cinta Wakaf Zakat, Infaq, dan Shadaqah. Awalnya ide tersebut tampak mustahil terwujud, terlebih masyarakat saat ini lebih mengutamakan pendidikan umum daripada pendidikan agama. Namun berkat kegigihan beliau, impian 1000 pesantren itu sedikit demi sedikit terwujud. KH Mahrus Amin mendapat respon positif di berbagai daerah.
Beliau mengatakan, dasar gagasan tersebut karena kader-kader dai belum tersebar di seluruh pelosok nusantara.
“Untuk pemerataan da’wah Islam, perlu disebar pondok pesantren di seluruh Indonesia,” kata KH Mahrus Amin, dikutip dari laman resmi Darunnajah.
Pemilihan model pengkaderan lewat pondok pesantren memiliki alasan historis dan empiris. Lembaga ini telah terbukti bisa tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, desa maupun kota. Pondok pesantren juga merupakan penerjemahan dari jejak langkah Rasulullah Muhammad SAW membangun umat di Madinah.
“Ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan oleh Rasul adalah mendirikan masjid sebagai pusat semua aspek kegiatan umat,” ucap beliau.
Gagasan tersebut beliau kembangkan di Ponpes Madinatunnajah yang berada dibawah Yayasan Pendidikan dan Wakaf Islamiyah An-Najah yang terletak di Jl. Jombang-BSD No.97 Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
Hingga saat ini, Yayasan Pendidikan dan Wakaf Islamiyyah telah merintis pembangunan 100 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, baik bagian dari Madinatunnajah Grup maupun mitra binaan.
Saat ini, Madinatunnajah Grup telah memiliki lembaga pendidikan meliputi Tarbiyatul Mu'allimin Wal Mu’allimat Al Islamiyah (TMI), Madrasah Ibtidaiyah Terpadu, dan Taman Pendidikan Al Qur'an. Selain itu ada juga Majlis Ta’lim, Pengajian Awal bulan bersama ulama Madinatunnajah, Tahfidz Al Qur-an, Rihlah Ruhiyah, Manasik Haji, dan kegiatan keislaman lainnya.
(jqf)