LANGIT7.ID - Paus Fransiskus secara resmi meminta maaf atas kejahatan dan kekerasan di sekolah-sekolah yang dikelola gereja Katolik terhadap anak-anak pribumi atau masyarakat adat Kanada.
Melansir Anadolu Agency, setidaknya 4.200 anak meninggal karena penyakit dan pelecehan seksual, fisik, dan psikologis yang dilakukan di sekolah-sekolah itu. Sekolah-sekolah tersebut pertama kali dibuka pada 1820-an dan terakhir ditutup pada 1990-an.
“Saya meminta (untuk) pengampunan. Saya sangat menyesal,” kata Paus, melansir Anadolu Agency, Rabu (27/7/2022).
Saat menyampaikan permintaan maaf tersebut, Paus didampingi kepala suku yang mewakili tiga kelompok masyarakat adat Kanada yakni Metis, Inuit, dan First Nations. Dia menyampaikan pernyataan itu di bekas sekolah Perumahan Ermineskin di Maskwacis di Alberta, Kanada.
Baca Juga: Diutus Presiden Jokowi Undang Paus Fransiskus, Menag Datang ke Vatikan
Paus melakukan ‘Ziarah tobat’ selama enam hari untuk mengungkapkan kesedihannya atas pelecehan yang dilakukan pendeta dan biarawati terhadap tiga suku tersebut. Sekira 150.000 anak-anak pribumi dipaksa bersekolah, meski kadang membuat keluarga tercerai-berai.
Tujuan sekolah itu didirikan untuk menghapus budaya pribumi lalu menggantinya dengan budaya ‘putih’. Pada 1820-an ada 139 sekolah yang dibuka dan sudah ditutup pada 1990-an.
Sebuah penelitian pada 2019 mengungkap, terjadi praktik genosida di sekolah-sekolah tersebut. Itu juga diakui oleh Perdana Menteri Justin Trudeau pada 2021 lalu. Dari kejadian itu, 4.300-6.000 anak meninggal dunia.
Paus juga sudah meminta maaf di Vatikan atas peristiwa pelecehan tersebut. Itu karena gereja mengelola sekitar 60 persen sekolah. Namun, masyarakat adat meminta Paus untuk meminta maaf secara langsung di Kanada, tempat kekejaman itu terjadi.
Paus menyanggupi hal tersebut. Dia terbang ke Kanada pada Ahad (24/7/2022) dan akan berada di sana selama enam hari.
Baca Juga: Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual di Lembaga Pendidikan
“Saudara dan saudari Kanada yang terkasih. Saya datang di antara anda untuk bertemu dengan masyarakat adat. Saya berharap, dengan rahmat Tuhan, bahwa ziarah tobat saya dapat berkontribusi pada perjalanan rekonsiliasi yang telah dilakukan. Tolong temani aku dengan doa,” kata Paus sebelum berangkat dari Roma.
Selama enam hari kunjungan, Paus akan berkeliling ke daerah-daerah tempat kejadian perkara seperti Edmonton, Alberta, Quebec, dan Inuit di ujung utara Kanada sebelum kembali ke Roma.
(jqf)